Generasi Z semakin dekat dengan dunia digital, kreativitas, dan pola konsumsi yang cepat berubah. Kondisi tersebut turut membuka ruang bagi perkembangan berbagai jenis usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM yang menawarkan produk maupun layanan dengan karakter berbeda dari bisnis konvensional.

Bagi Gen Z, bisnis bukan hanya mengenai menjual barang. Identitas merek, desain produk, pengalaman pelanggan, konten media sosial, kemudahan transaksi, hingga cerita di balik sebuah produk dapat menjadi bagian dari pengalaman ketika seseorang memutuskan membeli.

Data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII menunjukkan penetrasi internet kelompok Gen Z di Indonesia mencapai 89,02 persen pada 2026. Aktivitas masyarakat di internet juga banyak berkaitan dengan komunikasi, jejaring sosial, hiburan digital, pencarian informasi, serta transaksi e-commerce dan layanan digital.

Kondisi tersebut membuat bisnis yang mampu memadukan produk dengan teknologi digital semakin menarik untuk diperhatikan.

Tidak mengherankan jika kemudian muncul berbagai UMKM yang sangat dekat dengan gaya hidup Gen Z. Mulai dari makanan dan minuman kekinian, thrift fashion, produk custom, jasa pembuatan konten, hingga produk digital.

Mengapa UMKM Dekat dengan Gen Z?

UMKM memiliki karakter yang cukup fleksibel. Pemilik usaha dapat melakukan eksperimen terhadap produk, kemasan, harga, maupun strategi promosi tanpa harus melalui struktur perusahaan yang terlalu panjang.

Karakter tersebut sesuai dengan lingkungan bisnis digital yang berubah cepat.

Tren di media sosial dapat berubah dalam hitungan minggu. Produk yang sebelumnya kurang dikenal dapat menjadi populer setelah muncul dalam konten kreator atau video pendek.

Karena itu, pelaku UMKM yang memahami kebiasaan digital memiliki kesempatan untuk memperkenalkan produknya melalui berbagai kanal.

Bank Indonesia pada 2026 juga menekankan pentingnya inovasi, kreativitas, teknologi, digitalisasi, penguatan merek, dan kemampuan membaca pasar agar wirausaha muda dapat membawa UMKM naik kelas.

1. Bisnis Fashion dan Thrift

Fashion menjadi salah satu sektor yang mudah dikembangkan menjadi bisnis yang dekat dengan anak muda.

Thrift shop, pakaian vintage, pakaian custom, aksesori, tote bag, topi, hingga produk fashion dengan desain khusus dapat dipasarkan melalui media sosial dan marketplace.

Daya tarik bisnis fashion bukan hanya terletak pada produknya. Cara menampilkan produk juga sangat penting.

Foto dengan konsep yang menarik, video mix and match, konten before-after, atau rekomendasi outfit dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran.

Pelaku UMKM bahkan dapat membuat identitas visual yang konsisten agar toko memiliki karakter tersendiri.

Konsep seperti ini membuat pelanggan tidak hanya melihat produk sebagai barang, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup.

2. Kuliner dengan Konsep Unik

Bisnis kuliner tetap menjadi salah satu sektor yang mudah ditemukan di lingkungan anak muda.

Namun, persaingannya juga cukup tinggi.

Karena itu, UMKM kuliner yang menyasar Gen Z dapat mengembangkan konsep yang lebih spesifik. Misalnya makanan dengan ukuran praktis, minuman dengan varian rasa unik, dessert, camilan pedas, makanan ringan untuk nongkrong, atau produk yang memiliki tampilan menarik ketika difoto.

Kemasan juga dapat menjadi bagian dari strategi branding.

Nama produk yang mudah diingat, desain kemasan yang menarik, serta konten video ketika produk dibuat dapat membantu membangun karakter bisnis.

Video commerce sendiri dinilai membuka peluang bagi UMKM untuk memperkenalkan produk kepada konsumen dengan jangkauan lebih luas. Ekonom Celios menyebut terjadi pergeseran pola konsumsi daring menuju pengalaman yang menggunakan video atau live streaming sebagai media pengantar.

Artinya, bisnis kuliner tidak harus bergantung sepenuhnya pada pelanggan yang datang langsung ke toko.

3. Jasa Content Creator untuk UMKM

Tidak semua peluang UMKM harus menghasilkan barang fisik.

Kemampuan membuat foto produk, video pendek, desain grafis, copywriting, editing video, atau mengelola media sosial juga dapat dikembangkan menjadi bisnis.

Jenis usaha ini cukup relevan bagi Gen Z yang sudah terbiasa menggunakan berbagai platform digital.

Seorang freelancer misalnya dapat menawarkan paket pembuatan konten kepada warung makan, toko pakaian, kedai kopi, salon, barbershop, atau UMKM lokal.

Layanan bisa dibuat dalam beberapa bentuk.

Contohnya adalah paket foto produk, paket video pendek, pengelolaan media sosial, atau pembuatan kalender konten bulanan.

Keunggulannya adalah modal awal dapat relatif lebih rendah dibandingkan bisnis yang membutuhkan tempat usaha dan stok barang dalam jumlah besar.

Namun, keterampilan tetap menjadi modal utama.

4. Produk Custom dan Personal

Produk yang dapat dibuat sesuai permintaan pelanggan juga memiliki ruang tersendiri di kalangan anak muda.

Contohnya adalah kaus custom, tumbler dengan nama, casing ponsel, gantungan kunci, stiker, notebook, tote bag, hingga merchandise untuk komunitas.

Konsep personalisasi membuat pelanggan merasa mendapatkan produk yang lebih spesifik.

Pelaku UMKM tidak selalu harus memiliki mesin produksi sendiri. Pada tahap awal, produksi dapat dilakukan melalui kerja sama dengan vendor atau sistem pre-order.

Model tersebut dapat membantu mengurangi kebutuhan menyimpan terlalu banyak stok.

Namun, pemilik usaha tetap harus menghitung biaya produksi, pengemasan, ongkos kirim, biaya platform, dan margin keuntungan sebelum menentukan harga.

5. Produk Digital Bisa Menjadi Pilihan

Perkembangan ekonomi digital juga membuka peluang untuk menjual produk yang tidak berbentuk fisik.

Contohnya adalah template desain, kalender digital, e-book, preset foto, worksheet, materi pembelajaran, template presentasi, atau mini workshop.

ANTARA sebelumnya mencatat produk digital mikro seperti e-book dan mini workshop sebagai salah satu peluang bisnis yang relevan bagi generasi muda pada 2026.

Keuntungan model ini adalah produk dapat dibuat sekali dan kemudian dijual berulang kali.

Namun, bukan berarti produk digital otomatis mudah menghasilkan uang.

Produk tetap harus memiliki manfaat yang jelas. Konsumen perlu memahami masalah apa yang dapat dibantu oleh produk tersebut.

Misalnya, daripada menjual “template digital”, pelaku usaha dapat menawarkan “template perencanaan konten media sosial untuk UMKM kuliner”.

Semakin jelas manfaatnya, semakin mudah calon pelanggan memahami produk.

6. Bisnis Minuman untuk Komunitas Anak Muda

Minuman kekinian juga dapat menjadi pilihan UMKM yang dekat dengan aktivitas Gen Z.

Kopi susu, teh, minuman buah, cokelat, mocktail nonalkohol, hingga minuman berbasis susu dapat dikembangkan dengan konsep yang berbeda.

Namun, bisnis minuman tidak harus selalu bersaing melalui harga.

Pelaku usaha dapat membangun identitas melalui konsep kedai, kemasan, nama menu, pelayanan, atau komunitas.

Sebuah kedai kecil misalnya dapat menyediakan tempat untuk mengerjakan tugas, bertemu komunitas, atau membuat konten.

Dengan begitu, produk minuman menjadi bagian dari pengalaman pelanggan.

7. Bisnis Berbasis Hobi dan Komunitas

Gen Z memiliki banyak komunitas dengan minat yang spesifik.

Gaming, olahraga, musik, fotografi, anime, buku, otomotif, hingga kegiatan kreatif dapat menjadi dasar pengembangan UMKM.

Misalnya, seseorang yang memahami dunia gaming dapat menjual aksesori meja gaming, merchandise, jasa desain overlay, atau layanan pembuatan konten.

Penggemar olahraga dapat membuat merchandise komunitas atau mengembangkan jasa dokumentasi pertandingan.

Kuncinya adalah memahami kebutuhan komunitas.

Bisnis berbasis hobi biasanya lebih mudah dikembangkan ketika pemilik usaha memang memahami masalah dan kebiasaan target konsumennya.

8. Jasa Personal Branding

Perkembangan media sosial membuat personal branding semakin diperhatikan oleh kreator, pekerja profesional, pengusaha, dan pemilik bisnis.

Kondisi tersebut membuka peluang bagi anak muda yang memiliki kemampuan dalam desain, fotografi, video, copywriting, dan strategi media sosial.

Layanan dapat mencakup pembuatan profil bisnis, desain konten, perencanaan kalender konten, fotografi produk, hingga pengelolaan akun.

ANTARA juga mencatat personal branding sebagai salah satu peluang bisnis yang relevan bagi generasi muda pada 2026, terutama karena semakin banyak profesional dan perusahaan yang membutuhkan bantuan dalam membangun citra digital.

9. Affiliate Marketing dan Digital Marketing

Bisnis berbasis affiliate juga semakin dekat dengan karakter ekonomi digital.

Pada model ini, seseorang mempromosikan produk milik pihak lain dan memperoleh komisi berdasarkan ketentuan program yang diikuti.

Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui konten media sosial, video, blog, maupun kanal digital lainnya.

ANTARA memasukkan affiliate dan digital marketing sebagai salah satu bidang yang diprediksi berkembang pada 2026 karena relatif dapat dimulai dengan perangkat digital yang sudah dimiliki.

Meski begitu, affiliate marketing tetap membutuhkan kemampuan membuat konten dan memahami audiens.

Tidak semua produk yang dipromosikan akan menghasilkan penjualan.

Karena itu, membangun kepercayaan audiens tetap menjadi bagian penting.

10. UMKM yang Menggabungkan Offline dan Online

Bisnis yang menyasar Gen Z tidak harus sepenuhnya berjalan secara online.

Model hybrid justru dapat menjadi pilihan.

Misalnya, sebuah kedai kecil memiliki lokasi fisik sekaligus akun media sosial yang aktif. Pelanggan dapat datang langsung, sementara konsumen lain dapat memesan melalui layanan digital.

Begitu pula toko fashion lokal yang memiliki gerai kecil tetapi menggunakan media sosial sebagai etalase utama.

Pendekatan seperti ini memungkinkan bisnis memiliki interaksi langsung sekaligus jangkauan digital.

Perkembangan ekonomi digital Indonesia juga disebut Kementerian UMKM sebagai peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar melalui pemanfaatan teknologi.

Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Salah satu kesalahan yang dapat terjadi ketika membangun UMKM yang menyasar Gen Z adalah hanya mengikuti tren.

Sebuah produk bisa viral hari ini dan kehilangan perhatian konsumen beberapa minggu kemudian.

Karena itu, bisnis perlu memiliki dasar yang lebih kuat daripada sekadar tren.

Pertama, produk harus menyelesaikan kebutuhan tertentu.

Kedua, harga harus disesuaikan dengan kemampuan target pasar.

Ketiga, kualitas harus konsisten.

Keempat, pelayanan pelanggan perlu diperhatikan.

Kelima, bisnis harus memiliki identitas yang mudah dikenali.

Media sosial sebaiknya digunakan sebagai alat untuk memperkenalkan dan membangun hubungan dengan pelanggan, bukan satu-satunya fondasi bisnis.

Pentingnya Membangun Brand

Branding menjadi semakin penting ketika jumlah pelaku UMKM terus bertambah.

Dua bisnis dapat menjual produk yang hampir sama, tetapi memiliki persepsi berbeda karena cara mereka membangun merek.

Nama usaha, logo, warna, kemasan, gaya komunikasi, foto produk, hingga cara membalas pelanggan dapat menjadi bagian dari pengalaman brand.

Bank Indonesia menekankan bahwa digitalisasi dan penguatan brand merupakan bagian penting dalam pengembangan UMKM, khususnya ketika generasi muda terlibat dalam proses regenerasi usaha.

Karena itu, pelaku usaha muda tidak perlu menunggu bisnisnya besar untuk mulai memikirkan branding.

Brand dapat dibangun sejak usaha masih kecil.

Memanfaatkan Media Sosial Secara Strategis

Media sosial memberikan ruang bagi UMKM untuk memperkenalkan produk tanpa harus selalu mengeluarkan biaya promosi besar.

Namun, membuat akun bisnis saja tidak cukup.

Pelaku usaha perlu memahami jenis konten yang sesuai dengan target konsumennya.

Beberapa jenis konten yang dapat digunakan antara lain:

  • Video proses pembuatan produk.
  • Cerita di balik bisnis.
  • Tutorial penggunaan produk.
  • Testimoni pelanggan.
  • Konten edukasi.
  • Behind the scenes.
  • Informasi promo.
  • Live streaming.
  • Kolaborasi dengan kreator lokal.

Video commerce juga semakin diperhatikan dalam ekosistem UMKM karena memungkinkan produk diperkenalkan melalui pengalaman visual dan interaksi yang lebih langsung.

Tantangan UMKM yang Menyasar Gen Z

Meski memiliki peluang, bisnis yang menyasar Gen Z tetap menghadapi berbagai tantangan.

Tren yang cepat berubah membuat pelaku usaha harus terus membaca pasar. Persaingan di media sosial juga tinggi karena siapa pun dapat membuat konten dan memasarkan produk.

Selain itu, penggunaan platform digital membuat pelaku UMKM perlu memperhatikan keamanan data pelanggan. Pengamat keamanan siber yang dikutip ANTARA mengingatkan bahwa data pelanggan dapat tersebar melalui berbagai platform seperti marketplace, media sosial, aplikasi pesan, dan jasa pengiriman.

Pelaku usaha juga perlu memahami pencatatan keuangan, legalitas, pajak, pengelolaan stok, dan pelayanan konsumen.

Jadi, menjadi UMKM yang dekat dengan Gen Z bukan hanya soal membuat produk yang terlihat kekinian.

Kesimpulan

UMKM yang identik dengan Gen Z berkembang di tengah perubahan gaya hidup dan semakin kuatnya penggunaan teknologi digital. Fashion, kuliner, produk custom, jasa konten, produk digital, bisnis berbasis komunitas, personal branding, hingga affiliate marketing menjadi beberapa bentuk usaha yang dapat dikembangkan dengan karakter anak muda.

Tingginya penetrasi internet Gen Z di Indonesia memperlihatkan bahwa ruang digital menjadi bagian penting dari kehidupan generasi tersebut.

Namun, kedekatan dengan Gen Z tidak cukup hanya dengan menggunakan istilah populer atau mengikuti tren media sosial. UMKM tetap membutuhkan produk yang memiliki nilai, pelayanan yang baik, identitas merek yang jelas, pengelolaan keuangan yang sehat, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar.

Bagi wirausaha muda, teknologi dapat menjadi alat untuk memperluas jangkauan bisnis. Kreativitas dapat menjadi pembeda, sementara pemahaman terhadap konsumen dapat membantu usaha bertahan ketika tren berubah.

Dengan perpaduan produk yang relevan, strategi digital, dan pengelolaan bisnis yang baik, UMKM dapat berkembang menjadi usaha yang bukan hanya terlihat kekinian, tetapi juga memiliki fondasi untuk tumbuh dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *