Bencana gunung meletus bukan hanya mengubah kondisi lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat. Jalan bisa ditutup, toko tidak dapat beroperasi seperti biasa, distribusi barang terganggu, dan sebagian warga harus berpindah ke lokasi yang lebih aman.
Di tengah situasi tersebut, muncul kebutuhan yang berbeda dibandingkan kondisi normal.
Masyarakat membutuhkan makanan, air minum, perlengkapan kebersihan, masker, pakaian, kebutuhan bayi, alat penerangan, hingga berbagai kebutuhan harian lainnya. Kondisi ini membuat sebagian pelaku usaha melihat adanya peluang untuk mempertahankan atau memulai aktivitas ekonomi.
Namun, membuka UMKM saat bencana gunung meletus tidak bisa dilakukan dengan pola pikir bisnis normal.
Ada batas yang harus dipahami.
Tujuan utama bukan mengambil keuntungan dari penderitaan masyarakat, melainkan menyediakan barang atau jasa yang memang dibutuhkan dengan harga yang wajar. Keselamatan pelaku usaha, konsumen, relawan, dan masyarakat harus ditempatkan di atas kepentingan bisnis.
Prinsip tersebut penting karena bencana membutuhkan solidaritas. Usaha kecil justru dapat menjadi bagian dari pemulihan ekonomi apabila dijalankan secara bertanggung jawab.
Bank Indonesia sendiri menunjukkan bahwa UMKM dapat kembali tumbuh setelah menghadapi bencana melalui dukungan pengembangan kapasitas, akses pasar, dan digitalisasi pembayaran. Pengalaman pemulihan UMKM di Aceh juga menunjukkan bahwa proses bangkit dari bencana membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha dan berbagai pihak.
Lalu, bagaimana cara membuka UMKM saat bencana gunung meletus dengan tetap memperhatikan keamanan dan kebutuhan masyarakat?
1. Pastikan Lokasi Usaha Benar-Benar Aman
Hal pertama yang tidak boleh ditawar adalah keselamatan.
Jangan membuka usaha hanya karena melihat adanya peluang pembeli jika lokasi tersebut masih berada di kawasan berbahaya atau telah mendapatkan instruksi evakuasi.
Pelaku usaha harus memperhatikan informasi dari pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pusat pengamatan gunung api, dan otoritas terkait lainnya.
Jika suatu wilayah dinyatakan harus dikosongkan, aktivitas bisnis sebaiknya dihentikan.
Tidak ada omzet yang sebanding dengan risiko kehilangan nyawa.
Bagi pengusaha yang berada di luar zona bahaya, usaha dapat diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di lokasi yang aman, misalnya melalui sistem distribusi atau penjualan dari tempat yang jauh dari kawasan terdampak langsung.
2. Jangan Langsung Membuka Toko Fisik
Ketika terjadi erupsi, membuka toko fisik bukan selalu pilihan terbaik.
Pelaku UMKM dapat mempertimbangkan sistem pre-order, pesan antar, penjualan melalui WhatsApp, media sosial, marketplace, atau sistem pengambilan barang di lokasi yang aman.
Model tersebut dapat mengurangi kebutuhan masyarakat untuk bepergian dan sekaligus mengurangi risiko bagi pemilik usaha.
Misalnya, seseorang mempunyai usaha makanan rumahan. Daripada membuka warung di tengah kondisi jalan yang tidak menentu, ia dapat menerima pesanan melalui pesan singkat dan mengatur pengiriman pada waktu serta lokasi yang aman.
Dengan demikian, bisnis tetap berjalan tanpa memaksakan aktivitas di wilayah yang berisiko.
3. Cari Tahu Kebutuhan yang Benar-Benar Diperlukan
Kesalahan yang sebaiknya dihindari adalah menganggap semua barang akan laku hanya karena terjadi bencana.
Pelaku usaha perlu mengamati kebutuhan masyarakat.
Dalam situasi erupsi, kebutuhan dapat berubah dengan cepat. Barang yang biasanya laku mungkin justru tidak menjadi prioritas. Sebaliknya, produk sederhana dapat menjadi sangat dibutuhkan.
Beberapa kategori yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- makanan siap konsumsi;
- air minum;
- makanan ringan;
- kebutuhan kebersihan;
- masker atau perlengkapan perlindungan yang sesuai;
- sabun dan produk sanitasi;
- popok bayi;
- pembalut;
- lampu darurat;
- baterai;
- perlengkapan memasak sederhana;
- pakaian layak pakai;
- kebutuhan hewan peliharaan;
- serta berbagai kebutuhan harian lainnya.
Namun, jenis barang harus disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Jangan melakukan penimbunan hanya berdasarkan perkiraan. Tanyakan kepada konsumen, relawan, komunitas lokal, atau organisasi yang bekerja di wilayah terdampak mengenai barang yang benar-benar dibutuhkan.
4. Mulai dengan Sistem Modal yang Fleksibel
Bencana membuat situasi ekonomi lebih tidak pasti.
Karena itu, jangan menghabiskan seluruh modal untuk membeli stok dalam jumlah besar.
Gunakan sistem bertahap.
Misalnya, modal awal Rp2 juta tidak harus langsung digunakan seluruhnya. Sebagian dapat digunakan untuk membeli produk yang paling dibutuhkan, sementara sebagian lainnya disimpan sebagai cadangan untuk menghadapi perubahan harga, biaya transportasi, atau kebutuhan mendadak.
Konsep ini sejalan dengan prinsip UMKM yang sehat: bisnis tidak harus langsung besar, tetapi harus mampu mengendalikan risiko dan menjaga perputaran modal. WarungTerkini.id sendiri sebelumnya menekankan bahwa usaha kecil dapat dimulai secara bertahap dengan menguji respons pasar terlebih dahulu.
Dalam kondisi bencana, prinsip tersebut menjadi semakin penting.
5. Jangan Menjual dengan Harga Tidak Wajar
Ini adalah bagian yang sangat penting.
Ketika permintaan meningkat karena bencana, pelaku usaha mungkin melihat kesempatan untuk menaikkan harga secara ekstrem. Strategi seperti itu mungkin menghasilkan keuntungan sesaat, tetapi dapat menghancurkan kepercayaan konsumen dan merusak reputasi bisnis.
Pelaku UMKM sebaiknya menetapkan harga secara wajar dengan mempertimbangkan kenaikan biaya pengadaan dan distribusi yang memang terjadi.
Jika harga dari pemasok naik, jelaskan kepada konsumen secara transparan.
Jangan menggunakan situasi darurat sebagai alasan untuk mengambil keuntungan secara berlebihan.
Bisnis yang tumbuh dari kepercayaan akan memiliki peluang bertahan jauh lebih panjang dibandingkan usaha yang hanya mengejar keuntungan ketika masyarakat sedang mengalami kesulitan.
6. Pertimbangkan Bisnis Makanan Siap Saji
Salah satu peluang UMKM yang dapat muncul dalam situasi bencana adalah makanan siap konsumsi.
Ketika sebagian masyarakat harus mengungsi atau aktivitas memasak menjadi terbatas, makanan yang praktis dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pelaku usaha dapat mempertimbangkan menu sederhana seperti nasi dengan lauk, bubur, roti, makanan ringan, atau minuman yang mudah dikonsumsi.
Tetapi faktor keamanan pangan harus menjadi prioritas.
Jangan memproduksi makanan dalam jumlah besar jika tidak memiliki kemampuan penyimpanan yang memadai. Perhatikan kebersihan bahan, air, peralatan, pengemasan, serta waktu distribusi.
Dalam kondisi darurat, makanan yang tidak ditangani dengan baik justru dapat menimbulkan masalah baru.
7. Manfaatkan Sistem Pre-Order
Pre-order merupakan salah satu strategi yang menarik untuk kondisi yang tidak menentu.
Dengan sistem ini, pelaku usaha mengetahui jumlah permintaan sebelum memproduksi atau membeli barang dalam jumlah besar.
Misalnya, seorang pemilik usaha makanan menerima pesanan untuk 50 paket makan. Setelah jumlah pesanan terkonfirmasi, ia membeli bahan sesuai kebutuhan.
Keuntungannya adalah risiko makanan tersisa dapat ditekan.
Sistem ini juga dapat diterapkan pada kebutuhan lain seperti paket sembako, perlengkapan kebersihan, makanan ringan, atau kebutuhan rumah tangga.
Bagi UMKM dengan modal terbatas, pre-order dapat membantu menjaga arus kas.
8. Gunakan WhatsApp dan Media Sosial untuk Berjualan
Bencana dapat membatasi mobilitas, tetapi tidak selalu menghentikan komunikasi digital.
WhatsApp, media sosial, dan platform digital dapat digunakan untuk memberi informasi mengenai produk, harga, stok, dan lokasi pengiriman.
Buat informasi sesederhana mungkin.
Contohnya:
Paket kebutuhan harian tersedia.
Isi paket:
- air minum;
- makanan ringan;
- sabun;
- masker;
- kebutuhan kebersihan.
Pesanan melalui WhatsApp.
Pengiriman hanya dilakukan ke wilayah yang aman.
Informasi seperti ini lebih membantu daripada promosi yang terlalu berlebihan.
Di tengah kondisi darurat, konsumen membutuhkan informasi yang jelas dan dapat dipercaya.
9. Sediakan Pilihan Pembayaran Digital
Pembayaran digital dapat membantu transaksi berlangsung lebih praktis ketika konsumen tidak membawa uang tunai.
Salah satu opsi yang dapat digunakan UMKM adalah QRIS. Bank Indonesia menjelaskan bahwa QRIS merupakan standar QR Code pembayaran yang memungkinkan berbagai instrumen pembayaran menggunakan satu kode QR dan menjadi salah satu pintu masuk UMKM ke ekosistem digital.
Bagi pelaku usaha yang sudah menggunakannya, pembayaran digital dapat menjadi alternatif ketika transaksi tunai tidak praktis.
Namun, tetap siapkan metode pembayaran lain karena kondisi jaringan internet atau listrik dapat berubah ketika terjadi bencana.
Jangan bergantung pada satu sistem saja.
10. Buat Paket Produk Berdasarkan Kebutuhan
Daripada menjual barang satu per satu, UMKM dapat membuat paket yang praktis.
Misalnya:
Paket Hemat Keluarga
- air minum;
- roti;
- makanan ringan;
- sabun;
- tisu.
Atau:
Paket Kebersihan
- sabun;
- sampo;
- pasta gigi;
- sikat gigi;
- deterjen kecil.
Paket semacam ini dapat mempermudah konsumen memilih barang.
Namun, pastikan harga paket tetap transparan. Jangan memasukkan produk yang tidak dibutuhkan hanya untuk meningkatkan nilai transaksi.
11. Bangun Kerja Sama dengan UMKM Lain
Situasi bencana tidak harus dihadapi seorang diri.
Pelaku UMKM dapat bekerja sama dengan pedagang lain.
Contohnya, pemilik warung menyediakan kebutuhan pokok, pengusaha makanan menyediakan makanan siap konsumsi, sementara kurir lokal membantu pengantaran.
Model kolaborasi seperti ini dapat menciptakan ekosistem usaha kecil yang saling membantu.
Kerja sama juga bisa dilakukan dengan komunitas, koperasi, organisasi sosial, maupun kelompok masyarakat sepanjang kegiatan tersebut dilakukan secara transparan dan sesuai aturan yang berlaku.
Pengalaman pemulihan UMKM pascabencana menunjukkan bahwa dukungan ekosistem dan akses pasar memiliki peran penting agar usaha dapat kembali berkembang.
12. Jangan Menimbun Barang yang Dibutuhkan Banyak Orang
Menjaga stok berbeda dengan menimbun.
Pelaku usaha memang perlu menyediakan persediaan agar dapat melayani konsumen. Namun, membeli barang secara berlebihan sehingga stok menjadi langka bagi masyarakat lain bukanlah strategi bisnis yang sehat.
Selain berpotensi menimbulkan masalah sosial, perilaku tersebut juga dapat merusak reputasi usaha.
Lebih baik memiliki stok yang cukup dan melakukan pengadaan secara berkala sesuai kondisi pasar.
Jika suatu produk mulai sulit diperoleh, komunikasikan kondisinya kepada pelanggan daripada memberikan janji yang tidak dapat dipenuhi.
13. Catat Semua Pengeluaran
Situasi darurat dapat membuat biaya operasional berubah dengan cepat.
Transportasi mungkin lebih mahal. Harga pemasok dapat berubah. Biaya kemasan bertambah. Waktu pengiriman juga bisa lebih panjang.
Karena itu, setiap pengeluaran harus dicatat.
Minimal catat:
- modal awal;
- pembelian barang;
- biaya transportasi;
- biaya kemasan;
- biaya tenaga kerja;
- biaya pengiriman;
- penjualan;
- dan keuntungan.
Jangan mencampur uang usaha dengan uang pribadi.
Pencatatan sederhana akan membantu mengetahui apakah usaha benar-benar menghasilkan keuntungan atau hanya terlihat ramai.
14. Siapkan Rencana Jika Kondisi Memburuk
Bisnis yang dijalankan saat bencana membutuhkan rencana cadangan.
Bagaimana jika jalan menuju pemasok ditutup?
Bagaimana jika listrik padam?
Bagaimana jika internet terganggu?
Bagaimana jika wilayah usaha harus dievakuasi?
Pertanyaan tersebut perlu dijawab sebelum terjadi masalah.
Pelaku usaha dapat menyiapkan pemasok alternatif, metode komunikasi cadangan, tempat penyimpanan yang aman, serta rencana penghentian operasional.
Ingat, bisnis dapat dibuka kembali ketika kondisi membaik.
Keselamatan tidak dapat digantikan.
15. Setelah Bencana, Jangan Langsung Berhenti Berinovasi
Ketika situasi mulai normal, kebutuhan konsumen juga akan berubah.
Produk yang dibutuhkan pada masa tanggap darurat belum tentu menjadi produk utama beberapa minggu kemudian.
Karena itu, pelaku UMKM perlu melakukan evaluasi.
Tanyakan:
- Produk apa yang paling banyak dicari?
- Produk apa yang tidak laku?
- Berapa keuntungan sebenarnya?
- Berapa banyak pelanggan baru?
- Apakah pelanggan kembali membeli?
- Bagaimana kondisi pemasok?
- Apakah model pengiriman masih efektif?
Jawaban tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya.
Membuka UMKM Saat Bencana Harus Mengutamakan Kemanusiaan
Membuka UMKM saat bencana gunung meletus memang dapat menjadi peluang ekonomi, tetapi peluang tersebut harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas.
Pelaku usaha bukan hanya penjual.
Dalam kondisi darurat, mereka juga dapat menjadi bagian dari rantai distribusi kebutuhan masyarakat.
Karena itu, strategi terbaik bukan sekadar mencari barang yang paling mahal dijual atau produk yang paling cepat habis. Strategi yang lebih sehat adalah memahami kebutuhan masyarakat, menjaga harga tetap wajar, menyediakan barang berkualitas, dan memastikan aktivitas usaha dilakukan di lokasi yang aman.
Digitalisasi juga dapat membantu. Pembayaran QRIS, komunikasi melalui WhatsApp, promosi media sosial, dan sistem pre-order dapat membuat UMKM lebih fleksibel menghadapi perubahan situasi. Bank Indonesia bahkan terus mendorong digitalisasi dan penguatan ekosistem UMKM agar usaha kecil memiliki akses pasar dan kemampuan yang lebih baik.
Pada akhirnya, bisnis yang baik bukan hanya bisnis yang menghasilkan uang.
Bisnis yang baik adalah bisnis yang mampu memberikan nilai kepada pelanggan, menjaga kepercayaan, dan tetap bertanggung jawab ketika kondisi masyarakat sedang sulit.
Jika erupsi gunung api terjadi, keselamatan harus selalu menjadi prioritas pertama. Setelah kondisi dinyatakan aman, barulah peluang usaha dapat dipertimbangkan dengan perencanaan yang matang.
Dengan pendekatan tersebut, UMKM bukan hanya bisa bertahan di tengah situasi sulit, tetapi juga dapat menjadi salah satu bagian dari proses pemulihan ekonomi masyarakat setelah bencana.
