Pada Selasa siang, 9 Desember 2025, sekitar pukul 12.43 WIB, api tiba‑tiba meletus di lantai dasar sebuah gedung tujuh lantai milik Terra Drone di kawasan Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat. Gedung ini dipakai sebagai kantor dan tempat penyimpanan / pengisian baterai drone.
Karyawan yang tengah makan siang atau beristirahat mendadak dikejutkan dengan kobaran api dan kepulan asap hitam pekat. Karena lokasi kebakaran berada di area baterai — yang banyak menyimpan baterai litium — dunianya berubah cepat dari tempat kerja menjadi zona bahaya.
Upaya awal memadamkan api dilakukan dengan alat pemadam ringan (APAR), namun api cepat menjalar ke lantai atas, membuat asap memenuhi tangga dan ruang evakuasi. Banyak karyawan sempat berlari ke lantai atas atau rooftop berharap diselamatkan.
Petugas pemadam kebakaran dikerahkan segera: 28–29 mobil pemadam dan ratusan petugas turun ke lokasi. Evakuasi dilakukan dengan tangga darurat, sementara beberapa pekerja berhasil dievakuasi dari lantai atas.
Korban & Dampak Tragis
Saat pemadaman selesai, jumlah korban yang berhasil diidentifikasi mencapai 22 orang tewas — terdiri dari 7 pria dan 15 wanita, termasuk satu perempuan yang sedang hamil.
Selain korban meninggal, sejumlah pekerja berhasil diselamatkan — data awal menyebutkan total 76 orang terdampak, dengan 54 selamat dan sisanya korban meninggal.
Sebagian besar korban diperkirakan meninggal karena menghirup asap tebal (smoke inhalation / kekurangan oksigen), bukan karena luka bakar — menandakan asap dan asap baterai litium yang beracun menjadi penyebab utama.
Proses evakuasi sangat sulit: asap pekat menutup akses tangga, sehingga banyak korban terjebak di lantai atas. Beberapa sempat naik ke rooftop, sementara petugas harus memecahkan kaca dan memakai tangga tinggi untuk evakuasi.
Dugaan Penyebab: Baterai Litium & Kesalahan Sistem Keselamatan
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa kebakaran kemungkinan besar dipicu oleh baterai litium — digunakan untuk drone — di lantai dasar. Saat baterai mulai panas atau korsleting, api cepat menyala dan asap tebal muncul tak terkendali.
Mirisnya, sistem keselamatan gedung — seperti jalur evakuasi, ventilasi darurat, sistem deteksi asap, dan protokol HSE (Health, Safety, Environment) — tampaknya kurang memadai untuk menangani risiko dari bahan berbahaya seperti baterai litium. Banyak pekerja tak sempat menyelamatkan diri karena asap menyebar sangat cepat.
Bahkan upaya awal memadamkan dengan alat ringan gagal — menunjukkan bahwa titik api dan penyimpanan baterai kemungkinan disiapkan tanpa pertimbangan proteksi kebakaran khusus.
Reaksi & Tanggung Jawab Pemerintah
Setelah tragedi, pemerintah provinsi setempat — melalui pejabat setempat — menyatakan akan menanggung seluruh biaya pemakaman dan perawatan korban sebagai bentuk solidaritas mengurangi beban keluarga yang ditinggalkan.
Sementara itu, proses identifikasi korban dan penyelidikan penyebab kebakaran masih terus berlangsung. Pihak berwenang menegaskan bahwa penyimpanan baterai berisiko harus dievaluasi ulang, dan regulasi keselamatan gedung serta standar penyimpanan bahan berbahaya harus diperketat.
Pelajaran Pahit: Pentingnya Keselamatan & Regulasi Ketat
Tragedi ini — kematian 22 orang, termasuk calon ibu — menjadi peringatan keras bahwa gedung kantor ≠ aman jika tidak dilengkapi proteksi memadai. Beberapa pelajaran penting:
-
Penyimpanan dan pengisian baterai litium harus dilakukan di lokasi khusus dengan ventilasi, detektor asap/CO, dan sistem pemadam kebakaran otomatis.
-
Gedung perkantoran dengan bahan berisiko tinggi perlu jalur evakuasi jelas, tangga darurat, dan pelatihan evakuasi reguler.
-
Perusahaan wajib menerapkan protokol HSE ketat bila menangani bahan elektronik / bahan kimia berbahaya — bukan hanya untuk efisiensi, tapi untuk keselamatan nyawa pekerja.
-
Pemerintah dan regulator harus segera memperketat aturan izin penggunaan gedung dan penyimpanan bahan berbahaya.
Penutup: Duka & Harapan untuk Korban — Waktu untuk Berbenah
Kebakaran di kantor Terra Drone menjadi duka mendalam bagi keluarga korban, rekan kerja, dan bangsa. 22 nyawa melayang dalam sekejap — bukan akibat bencana alam, tetapi kemungkinan akibat kelalaian standar keselamatan.
Kami berharap tragedi ini membuka mata banyak pihak — perusahaan, regulator, pekerja — bahwa keselamatan tidak bisa ditawar demi efisiensi atau biaya. Semoga korban mendapat tempat terbaik, keluarga diberi kekuatan, dan Indonesia segera memperbaiki regulasi keselamatan kerja & penyimpanan bahan berisiko.
