Seorang barista menggiling kopi di gerai Terminal Kopi Nusantara, Pasar Santa, Jakarta Selatan, Jumat (23/10/2020). Presiden Joko Widodo menyatakan pengendalian inflasi selama pandemi ini tidak bisa hanya berfokus pada pengendalian harga tetapi harus diarahkan untuk memastikan terjaganya daya beli masyarakat melalui penguatan perlindungan sosial dan dukungan terhadap sektor UMKM. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj.

Kopi bukan lagi sekadar minuman untuk menemani pagi atau mengusir rasa kantuk. Dalam beberapa tahun terakhir, kopi berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, aktivitas sosial, hingga peluang bisnis yang menarik bagi pelaku UMKM.

Kondisi tersebut membuat banyak orang tertarik mencoba usaha kopi. Masalahnya, tidak sedikit calon pengusaha yang langsung membayangkan kedai dengan desain menarik, mesin espresso mahal, banyak meja, lokasi strategis, dan modal puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Padahal, merintis UMKM kopi tidak harus dimulai dari kedai besar.

Bisnis kopi justru dapat dimulai dari skala yang jauh lebih sederhana. Produk bisa dibuat dari rumah, ditawarkan melalui media sosial, dititipkan di tempat tertentu, dijual secara pre-order, atau menggunakan konsep kopi keliling.

Model usaha seperti kopi keliling juga dinilai menarik bagi pemula karena tidak membutuhkan biaya sewa tempat seperti kedai konvensional dan dapat dikembangkan secara bertahap mengikuti kemampuan serta permintaan pasar.

Bagi calon pelaku UMKM yang ingin masuk ke bisnis kopi, pendekatan tersebut dapat menjadi pilihan untuk menguji pasar sebelum mengeluarkan modal lebih besar.

Lantas, bagaimana cara merintis UMKM kopi dari nol?

Mulai dari Produk, Bukan Gengsi Tempat

Kesalahan yang cukup sering dilakukan pengusaha pemula adalah terlalu fokus pada tempat.

Mereka berpikir bahwa bisnis kopi harus memiliki kedai bagus agar terlihat profesional. Akibatnya, sebagian besar modal habis untuk menyewa tempat, renovasi, meja, kursi, dekorasi, papan nama, dan berbagai perlengkapan lainnya.

Padahal, pelanggan pada akhirnya akan kembali karena produk yang mereka sukai.

Karena itu, langkah pertama sebaiknya adalah menentukan produk.

Misalnya, Anda dapat memulai dengan beberapa menu sederhana seperti kopi susu gula aren, americano, kopi cokelat, latte, atau es kopi dengan varian rasa.

Tidak perlu menyediakan belasan menu sejak hari pertama.

Semakin banyak menu yang ditawarkan, semakin banyak bahan baku yang harus disiapkan. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko bahan terbuang apabila penjualan belum stabil.

Lebih baik mempunyai lima menu dengan rasa yang konsisten daripada memiliki 20 menu tetapi kualitasnya tidak terjaga.

Pilih Konsep UMKM Kopi yang Sesuai Modal

Setiap orang memiliki kemampuan modal yang berbeda. Karena itu, jangan memaksakan model bisnis yang sebenarnya belum mampu ditanggung.

Ada beberapa konsep yang dapat dipertimbangkan.

1. Kopi Rumahan

Kopi rumahan merupakan salah satu pilihan paling sederhana untuk pemula.

Produksi dilakukan dari rumah dan penjualan bisa menggunakan sistem pre-order. Konsumen memesan terlebih dahulu, kemudian produk dibuat sesuai jumlah pesanan.

Model ini cocok bagi orang yang ingin menguji respons pasar tanpa menyewa tempat.

Promosi dapat dilakukan melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, maupun grup komunitas sekitar.

Keuntungannya, biaya operasional relatif lebih sederhana karena tidak membutuhkan biaya sewa kedai.

2. Kopi Literan

Kopi literan dapat menjadi alternatif ketika ingin menyasar konsumen yang membeli untuk keluarga, kantor, atau kelompok pertemanan.

Produk dapat dibuat dalam beberapa varian seperti kopi susu, kopi gula aren, kopi mocha, atau kopi dengan rasa tertentu.

Kemasan juga dapat menjadi bagian dari identitas brand.

Namun, jangan sekadar mengikuti tren. Pastikan produk mempunyai alasan mengapa pelanggan harus memilih kopi Anda dibandingkan produk lain.

Misalnya dari sisi rasa, ukuran, kemasan, harga, atau layanan.

3. Kopi Keliling

Konsep kopi keliling menarik untuk pengusaha yang ingin berjualan secara lebih fleksibel.

Tidak harus langsung menggunakan kendaraan mahal. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dan perlengkapan yang tersedia.

Keunggulan utamanya adalah mobilitas.

Pelaku usaha bisa mendatangi kawasan perkantoran pada pagi hari, area kampus pada siang hari, atau lokasi komunitas pada sore hingga malam.

Konsep ini juga memungkinkan pengusaha menguji berbagai lokasi tanpa harus terikat pada satu titik.

4. Booth atau Gerai Mini

Jika produk sudah mulai memiliki pelanggan tetap, langkah berikutnya dapat berupa booth kecil.

Konsepnya bukan coffee shop untuk nongkrong lama, tetapi lebih fokus pada pembelian cepat atau grab and go.

Model gerai mikro dengan ukuran kecil dapat mengurangi kebutuhan tempat dibandingkan coffee shop konvensional. Namun, lokasi tetap harus diperhitungkan dengan matang karena bisnis minuman sangat bergantung pada akses dan lalu lintas calon pelanggan.

Jangan Jual “Kopi”, Jual Alasan untuk Membeli

Ini merupakan bagian penting dalam merintis UMKM kopi.

Kopi sendiri bukan produk yang benar-benar baru. Sudah banyak penjual kopi dari skala warung hingga jaringan besar.

Jika Anda hanya menawarkan “kopi enak dan murah”, calon konsumen memiliki banyak pilihan lain.

Cobalah membuat identitas yang lebih spesifik.

Contohnya:

Kopi untuk pekerja malam.

Menu dan komunikasi brand diarahkan kepada pekerja dengan jam kerja malam.

Atau:

Kopi untuk mahasiswa.

Harga, ukuran, promo, dan lokasi penjualan disesuaikan dengan mahasiswa.

Bisa juga membuat konsep:

Kopi lokal dengan cerita daerah.

Biji kopi dari daerah tertentu kemudian diperkenalkan bersama cerita mengenai asal-usulnya.

Pendekatan lokalitas juga menjadi salah satu tren dalam bisnis kopi karena konsumen tidak hanya dapat tertarik pada rasa, tetapi juga cerita di balik produk.

Dengan begitu, kopi bukan hanya minuman.

Ia menjadi bagian dari identitas brand.

Buat Menu yang Mudah Diingat

Jangan meremehkan kekuatan nama menu.

Nama produk yang unik dapat membantu konsumen mengingat brand.

Misalnya, daripada hanya menulis “kopi susu”, Anda dapat membuat nama khas yang masih mudah dipahami.

Contohnya:

  • Kopi Pulang Kerja
  • Kopi Teman Deadline
  • Kopi Pagi Produktif
  • Kopi Sore Santai
  • Kopi Anak Kos
  • Kopi Lembur
  • Kopi Habis Gajian

Nama tersebut dapat disesuaikan dengan karakter brand.

Namun, jangan sampai nama terlalu rumit sehingga konsumen tidak tahu sebenarnya produk yang dijual.

Kreatif boleh, tetapi tetap mudah dipahami.

Hitung Modal Sebelum Mulai Berjualan

Merintis UMKM kopi tetap membutuhkan perhitungan.

Jangan menggunakan seluruh tabungan untuk membeli peralatan tanpa menyisakan dana operasional.

Buat daftar kebutuhan berdasarkan prioritas.

Misalnya:

  1. Peralatan seduh.
  2. Grinder atau alat penggiling sesuai konsep produk.
  3. Bahan baku.
  4. Gelas dan kemasan.
  5. Label atau stiker.
  6. Peralatan penyimpanan.
  7. Biaya promosi.
  8. Dana operasional.
  9. Dana cadangan.

Jumlah modal dapat sangat berbeda tergantung konsep usaha.

Kopi rumahan tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan booth atau coffee shop.

Yang terpenting bukan seberapa besar modal awal, melainkan apakah modal tersebut digunakan untuk kebutuhan yang benar-benar menghasilkan penjualan.

Jangan Terjebak Membeli Peralatan Mahal

Peralatan kopi memang menggoda.

Ada banyak mesin dengan harga tinggi dan fitur yang menarik. Namun, pemula tidak selalu membutuhkan peralatan paling mahal.

Gunakan peralatan yang sesuai dengan model bisnis.

Jika fokus pada kopi seduh manual, kebutuhan peralatannya berbeda dengan bisnis espresso.

Jika produk utama adalah kopi susu dingin, kebutuhan produksinya juga berbeda.

Prinsipnya sederhana: beli alat karena dibutuhkan bisnis, bukan karena terlihat keren.

Ketika penjualan sudah meningkat, barulah sebagian keuntungan digunakan untuk meningkatkan peralatan.

Dengan cara tersebut, bisnis berkembang berdasarkan arus kas, bukan sekadar mengejar penampilan.

Cari Supplier yang Bisa Diajak Tumbuh

Kualitas kopi sangat dipengaruhi bahan baku.

Karena itu, jangan memilih supplier hanya berdasarkan harga paling murah.

Perhatikan konsistensi produk, kualitas biji kopi, kemudahan mendapatkan stok, harga, dan komunikasi dengan pemasok.

Jika memungkinkan, lakukan pengujian terhadap beberapa jenis kopi sebelum menentukan bahan baku utama.

Pelaku usaha juga dapat mempertimbangkan kopi dari berbagai daerah Indonesia.

Misalnya Gayo, Toraja, Kintamani, Mandailing, Flores, atau daerah penghasil kopi lainnya.

Setiap daerah mempunyai karakteristik berbeda.

Namun, jangan menggunakan nama daerah hanya sebagai strategi pemasaran. Pastikan informasi mengenai asal produk memang dapat dipertanggungjawabkan.

Kemasan Bisa Menjadi Senjata Marketing

Banyak UMKM menganggap kemasan hanya sebagai wadah.

Padahal, kemasan dapat menjadi bagian dari pemasaran.

Bayangkan seseorang membeli kopi lalu memotret gelasnya untuk diunggah ke media sosial.

Jika desainnya menarik, secara tidak langsung pelanggan ikut mempromosikan produk.

Tidak perlu membuat kemasan yang sangat mahal.

Logo sederhana, nama brand yang mudah diingat, informasi produk yang jelas, dan desain konsisten sudah dapat membantu membangun identitas.

Pastikan pula kemasan sesuai dengan produk dan aman digunakan.

Gunakan Media Sosial untuk Membangun Cerita

Media sosial jangan hanya digunakan untuk mengunggah foto produk.

Buat konten yang memperlihatkan perjalanan bisnis.

Misalnya:

  • proses memilih biji kopi;
  • eksperimen resep;
  • pembuatan kopi;
  • cerita di balik nama brand;
  • aktivitas pelanggan;
  • proses membuka booth;
  • kesalahan ketika pertama kali berjualan;
  • tips menyeduh kopi;
  • perbedaan jenis biji kopi;
  • promo khusus pelanggan.

Konten seperti itu membuat brand terasa lebih manusiawi.

Penelitian mengenai UMKM coffee shop juga menunjukkan bahwa media sosial, orientasi pasar, dan inovasi produk merupakan faktor yang berkaitan dengan kinerja usaha.

Artinya, membangun bisnis kopi tidak cukup hanya membuat produk.

Pelaku usaha perlu memahami siapa konsumennya dan bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka.

Manfaatkan Sistem Pre-Order

Pre-order dapat menjadi strategi sederhana untuk mengurangi risiko produksi berlebihan.

Misalnya, Anda membuka pemesanan setiap Senin dan mengirimkan produk pada Selasa.

Atau membuka pesanan pada pagi hari untuk pengiriman pada siang hari.

Dengan sistem tersebut, jumlah produksi dapat disesuaikan dengan pesanan yang masuk.

Strategi ini juga dapat digunakan untuk menguji menu baru.

Jika ternyata varian tertentu kurang diminati, Anda tidak perlu menyediakan stok dalam jumlah besar.

Bangun Pelanggan Pertama dari Lingkungan Terdekat

Tidak perlu langsung mengejar ribuan pelanggan.

Mulailah dari orang-orang yang mudah dijangkau.

Teman kantor, tetangga, komunitas, keluarga, mahasiswa sekitar, atau pekerja di kawasan tempat tinggal bisa menjadi pelanggan awal.

Tawarkan produk dalam jumlah terbatas.

Mintalah mereka memberikan feedback.

Pertanyaan sederhana seperti “terlalu manis atau tidak?”, “harga cocok atau tidak?”, dan “mau beli lagi atau tidak?” dapat memberikan informasi berharga.

Jangan takut menerima kritik.

Justru komentar pelanggan awal dapat membantu memperbaiki produk sebelum bisnis berkembang lebih besar.

Buat Program Pelanggan Tetap

Bisnis kopi sangat bergantung pada pembelian berulang.

Karena itu, jangan hanya memikirkan bagaimana mendapatkan pelanggan pertama.

Pikirkan bagaimana membuat mereka kembali.

Contohnya:

  • beli lima gratis satu;
  • promo khusus pelanggan lama;
  • kartu stamp digital;
  • diskon ulang tahun;
  • paket kopi mingguan;
  • langganan kopi untuk kantor;
  • promo membawa tumbler;
  • bonus untuk referral.

Program sederhana tersebut dapat membuat pelanggan merasa memiliki alasan untuk kembali.

Coba Masuk ke Pasar Kantor

Salah satu peluang yang menarik adalah menjual kopi dalam jumlah banyak kepada kantor atau komunitas.

Misalnya, Anda menawarkan paket kopi untuk rapat.

Daripada menjual satu gelas kepada satu pelanggan, Anda dapat memperoleh pesanan 10, 20, bahkan puluhan gelas sekaligus.

Konsep ini juga dapat dikembangkan menjadi paket langganan.

Misalnya, sebuah kantor memesan kopi setiap Senin, Rabu, dan Jumat.

Model B2B sederhana seperti ini dapat memberikan pemasukan yang lebih terprediksi dibandingkan hanya mengandalkan pelanggan yang datang secara acak.

Jangan Abaikan Perizinan dan Kebersihan

Ketika bisnis mulai berkembang, aspek legalitas dan keamanan pangan juga harus diperhatikan.

Jangan hanya fokus pada pemasaran.

Pelaku UMKM perlu memahami ketentuan yang berlaku untuk produk makanan dan minuman, termasuk kebutuhan perizinan sesuai skala serta jenis usaha.

Selain itu, kebersihan peralatan, air, bahan baku, tempat penyimpanan, dan proses produksi harus dijaga.

Pelanggan mungkin datang karena melihat promosi di media sosial.

Tetapi mereka akan kembali jika produk konsisten, aman, dan pelayanan memuaskan.

Kapan Harus Membuka Kedai?

Jangan terburu-buru.

Kedai sebaiknya menjadi hasil perkembangan bisnis, bukan titik awal yang dipaksakan.

Beberapa indikator bahwa bisnis mulai siap berkembang antara lain:

  • penjualan sudah relatif stabil;
  • pelanggan mulai melakukan pembelian berulang;
  • produk sudah memiliki menu unggulan;
  • arus kas lebih sehat;
  • sudah memahami target konsumen;
  • brand mulai dikenal;
  • memiliki dana cadangan;
  • dan sudah mengetahui lokasi yang potensial.

Jika semua indikator tersebut mulai terpenuhi, membuka booth atau kedai kecil bisa menjadi langkah berikutnya.

Bisnis Kopi Harus Punya Pembeda

Persaingan bisnis kopi tidak bisa dianggap ringan.

Jumlah kedai kopi dan bisnis minuman yang berkembang membuat konsumen mempunyai banyak pilihan. Bahkan laporan industri terbaru menunjukkan persaingan antara jaringan besar dan bisnis independen semakin dinamis.

Karena itu, jangan membangun bisnis dengan pola “yang penting ikut jual kopi”.

Cari pembeda.

Pembeda tersebut bisa berupa:

Harga: menawarkan produk terjangkau.

Rasa: memiliki racikan khas.

Target pasar: fokus pada komunitas tertentu.

Lokasi: dekat dengan konsumen tertentu.

Konsep: memiliki identitas yang kuat.

Layanan: cepat dan ramah.

Produk: menghadirkan varian yang jarang ditemukan.

Cerita: mengangkat kopi lokal dan pelaku di baliknya.

Tidak harus semuanya.

Satu pembeda yang kuat sudah cukup untuk menjadi awal.

Kesimpulan

Merintis UMKM kopi tidak harus dimulai dengan coffee shop besar, dekorasi mahal, atau mesin kopi berharga tinggi.

Bisnis dapat dimulai dari rumah, sistem pre-order, kopi literan, kopi keliling, hingga booth kecil. Setelah menemukan produk yang disukai pasar dan mendapatkan pelanggan tetap, bisnis bisa dikembangkan secara bertahap.

Kunci utamanya bukan sekadar menjual kopi.

Pelaku usaha harus memahami siapa konsumennya, membuat produk yang konsisten, mengontrol biaya, membangun identitas brand, memanfaatkan media sosial, serta terus melakukan inovasi.

Industri kopi memang memiliki peluang besar, tetapi peluang tersebut datang bersama persaingan yang semakin ketat. Karena itu, calon pengusaha tidak cukup hanya mengikuti tren. Mereka harus mempunyai alasan yang jelas mengapa pelanggan perlu memilih produknya. Penelitian mengenai UMKM kopi juga menunjukkan pentingnya inovasi dalam meningkatkan daya saing usaha.

Jadi, jika selama ini Anda berpikir bahwa membuka bisnis kopi membutuhkan modal besar, mungkin sudah waktunya mengubah cara pandang.

Mulailah dari apa yang mampu dibuat, jual kepada orang terdekat, dengarkan pelanggan, perbaiki produk, lalu kembangkan bisnis sedikit demi sedikit.

Sebab dalam dunia UMKM, bisnis besar tidak selalu dimulai dari tempat yang besar.

Sering kali, semuanya justru dimulai dari satu gelas kopi pertama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *