Bencana alam seperti erupsi gunung api biasanya identik dengan kerugian, gangguan aktivitas, penurunan mobilitas masyarakat, hingga terhambatnya distribusi barang. Namun, dari sisi ekonomi, kondisi seperti ini juga menciptakan perubahan kebutuhan yang perlu dipahami oleh pelaku usaha.
Ketika erupsi vulkanik terjadi, masyarakat tidak berhenti membutuhkan barang dan jasa. Justru beberapa kebutuhan tertentu dapat meningkat karena aktivitas sehari-hari mengalami perubahan.
Situasi tersebut terlihat dalam erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026. Sebaran abu vulkanik berdampak ke sejumlah wilayah dan mengganggu berbagai aktivitas, termasuk operasional penerbangan serta kegiatan pendidikan. Sejumlah bandara bahkan mengalami penutupan sementara akibat abu vulkanik.
Bagi pelaku UMKM, kondisi seperti ini bukan momentum untuk mengambil keuntungan secara tidak wajar dari kesulitan masyarakat. Sebaliknya, peluang usaha yang muncul seharusnya diarahkan pada penyediaan produk dan layanan yang benar-benar dibutuhkan.
Dengan pendekatan tersebut, usaha tetap dapat berjalan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Lalu, apa saja peluang usaha saat erupsi vulkanik yang bisa dipertimbangkan?
1. Menjual Kebutuhan Harian dengan Sistem Pesan Antar
Salah satu usaha yang relatif relevan ketika aktivitas masyarakat dibatasi adalah penjualan kebutuhan harian dengan layanan pesan antar.
Masyarakat tetap membutuhkan beras, minyak goreng, gula, air minum, makanan kemasan, sabun, tisu, perlengkapan kebersihan dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.
Masalahnya, tidak semua orang ingin keluar rumah ketika abu vulkanik menyebar atau kondisi lingkungan kurang mendukung.
Di sinilah warung, toko kelontong dan UMKM dapat menawarkan layanan pemesanan melalui WhatsApp atau platform digital.
Tidak perlu langsung membuat aplikasi sendiri.
Pelaku usaha bisa membuat katalog sederhana berisi produk, harga dan cara pemesanan. Pesanan kemudian dikirim ke pelanggan dengan memperhatikan kondisi keselamatan pengantar.
Konsep sederhana tersebut dapat menjadi solusi bagi pelanggan sekaligus membantu usaha mempertahankan transaksi ketika jumlah pembeli yang datang langsung mengalami penurunan.
2. Membuka Layanan Antar Makanan dari Rumah
Usaha kuliner juga dapat beradaptasi dengan situasi bencana.
Ketika masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, makanan siap santap yang dapat dipesan secara online berpotensi menjadi pilihan praktis.
Pelaku UMKM tidak harus menyediakan puluhan menu.
Justru dalam kondisi seperti ini, konsep menu sederhana bisa lebih mudah dikelola. Misalnya nasi dengan lauk rumahan, makanan berkuah, makanan ringan, minuman dan paket makan keluarga.
Kunci utamanya adalah menjaga kualitas makanan, kebersihan proses produksi dan ketepatan waktu pengiriman.
Pelaku usaha juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan. Jika paparan abu sedang tinggi, jangan memaksakan kegiatan pengantaran yang dapat membahayakan pekerja.
Bisnis harus fleksibel mengikuti kondisi lapangan.
3. Menjual Produk Kebersihan Rumah
Abu vulkanik dapat membuat lingkungan rumah dan tempat usaha menjadi lebih kotor.
Hal tersebut dapat meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai perlengkapan kebersihan seperti masker, sarung tangan kerja, kain lap, tisu, kantong sampah, sabun, cairan pembersih dan perlengkapan kebersihan rumah.
Bagi pemilik toko kelontong, produk-produk tersebut dapat dimasukkan ke dalam kategori khusus, misalnya Paket Bersih Rumah Saat Abu Vulkanik.
Paket tidak harus mahal.
Isinya bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen dan kemampuan modal usaha.
Strategi bundling seperti ini membuat konsumen lebih mudah membeli beberapa produk sekaligus tanpa harus mencari satu per satu.
Namun, jangan menjual produk dengan harga tidak masuk akal hanya karena permintaan meningkat. Kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada keuntungan sesaat.
4. Membuat Paket Kebutuhan Darurat
Peluang usaha lainnya adalah membuat paket kebutuhan darurat.
Konsep ini dapat diterapkan oleh toko kelontong, reseller maupun UMKM yang sebelumnya sudah memiliki stok kebutuhan rumah tangga.
Contohnya adalah paket berisi air minum, makanan tahan simpan, kebutuhan kebersihan, baterai dan perlengkapan sederhana lainnya.
Produk yang dimasukkan harus benar-benar relevan.
Jangan memasukkan barang yang tidak dibutuhkan hanya untuk menaikkan harga paket.
Pelaku usaha juga bisa membuat beberapa pilihan berdasarkan kebutuhan konsumen, misalnya paket individu, paket keluarga dan paket kebutuhan dasar.
Model seperti ini membantu pelanggan berbelanja lebih cepat sekaligus memudahkan pelaku usaha mengatur persediaan.
5. Mengoptimalkan Bisnis Online dari Rumah
Erupsi vulkanik dapat mengubah pola mobilitas konsumen.
Ketika orang mengurangi aktivitas di luar rumah, bisnis yang bergantung sepenuhnya pada kunjungan fisik dapat mengalami penurunan transaksi.
Karena itu, pelaku UMKM perlu memiliki jalur penjualan alternatif.
Media sosial bisa dimanfaatkan untuk menampilkan stok, harga, promo dan layanan pengiriman.
WhatsApp Business juga dapat digunakan sebagai etalase digital sederhana.
Bahkan toko kecil di lingkungan permukiman bisa membuat katalog digital tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Bank Indonesia sendiri menempatkan digitalisasi, akses pasar dan inovasi sebagai bagian penting dalam pengembangan UMKM.
Artinya, membangun kanal penjualan digital bukan hanya berguna ketika terjadi bencana, tetapi juga dapat menjadi investasi jangka panjang bagi usaha.
6. Menjadi Reseller Produk yang Sedang Dibutuhkan
Tidak semua orang memiliki modal untuk membuat produk sendiri.
Dalam kondisi seperti erupsi, model reseller bisa menjadi alternatif.
Pelaku usaha dapat mencari pemasok yang memiliki stok produk kebutuhan masyarakat, kemudian memasarkannya kembali melalui jaringan pelanggan.
Namun, jangan membeli stok dalam jumlah besar tanpa memperhitungkan kondisi pasar.
Bencana memiliki ketidakpastian tinggi. Permintaan bisa meningkat cepat, tetapi dapat kembali normal ketika kondisi membaik.
Karena itu, sistem stok bertahap lebih aman daripada melakukan pembelian secara berlebihan.
7. Menyediakan Jasa Antar Barang Lokal
Ketika mobilitas masyarakat terganggu, jasa pengantaran barang dalam radius tertentu juga bisa menjadi peluang.
Pelaku usaha yang memiliki kendaraan dan memahami kondisi wilayah dapat menawarkan layanan pengiriman lokal untuk kebutuhan yang memungkinkan dikirim dengan aman.
Contohnya mengantarkan kebutuhan warung, dokumen, makanan, barang rumah tangga atau produk UMKM.
Namun, keselamatan harus menjadi prioritas.
Jika kondisi jalan terganggu, jarak pandang buruk atau paparan abu terlalu tinggi, pengiriman harus ditunda.
Jangan sampai mengejar omzet justru membuat pekerja menghadapi risiko keselamatan.
8. Membuka Jasa Digital untuk UMKM Terdampak
Peluang usaha tidak selalu berbentuk barang.
Jasa digital juga dapat berkembang ketika pelaku bisnis membutuhkan bantuan untuk tetap berjualan dari rumah.
Misalnya jasa membuat poster promosi, mengelola media sosial, membuat katalog produk, mengedit video pendek, membuat foto produk sederhana atau membantu mengatur marketplace.
Model usaha ini menarik karena dapat dikerjakan dari rumah.
Seorang freelancer dengan laptop atau smartphone dapat membantu beberapa UMKM sekaligus.
Dalam situasi ketika bisnis offline mengalami gangguan, kebutuhan untuk memperkuat kanal online justru dapat meningkat.
Ini menjadi contoh bahwa peluang usaha saat erupsi tidak selalu harus berkaitan langsung dengan produk bencana.
9. Fokus pada Produk yang Tahan Simpan
Bagi pemilik usaha makanan, kondisi bencana dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi jenis produk yang dijual.
Produk yang memiliki masa simpan lebih panjang relatif lebih mudah dikelola dibandingkan produk yang sangat cepat rusak.
Contohnya makanan kering, camilan kemasan, biskuit, makanan siap konsumsi dan produk lain yang sesuai dengan ketentuan keamanan pangan.
Tetap perhatikan tanggal kedaluwarsa, kondisi kemasan dan penyimpanan.
Jangan menganggap semua produk tahan lama otomatis aman disimpan dalam kondisi apa pun.
Pengelolaan stok menjadi semakin penting ketika distribusi barang mengalami gangguan.
10. Jangan Mengabaikan Keamanan Stok dan Tempat Usaha
Erupsi bukan hanya persoalan pemasaran.
Pelaku UMKM juga harus memikirkan keamanan aset.
Abu vulkanik dapat masuk ke bangunan dan mengotori produk, peralatan serta area produksi.
Makanan dan minuman perlu disimpan dalam kondisi tertutup dan terlindungi.
Produk yang terkontaminasi abu tidak boleh sembarangan dijual kembali.
Pemerintah DKI Jakarta, misalnya, mengimbau masyarakat untuk menutup tempat penyimpanan makanan dan air serta tidak mengonsumsi bahan yang telah terpapar abu vulkanik.
Prinsip tersebut juga penting bagi pemilik usaha makanan.
Keamanan konsumen harus tetap menjadi prioritas utama.
11. Jangan Menimbun Barang untuk Menaikkan Harga
Ketika bencana terjadi, kebutuhan terhadap beberapa barang dapat meningkat.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi pelaku usaha untuk melakukan penimbunan secara berlebihan demi menciptakan kelangkaan buatan.
Strategi seperti itu mungkin terlihat menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi dapat menghancurkan reputasi bisnis.
UMKM hidup dari kepercayaan masyarakat.
Pelanggan yang merasa diperlakukan tidak adil dapat meninggalkan bisnis dan menyebarkan pengalaman negatif kepada orang lain.
Lebih baik menerapkan harga wajar dengan margin yang masuk akal.
Jika biaya pengadaan naik, komunikasikan perubahan harga kepada pelanggan secara terbuka.
12. Manfaatkan WhatsApp untuk Menginformasikan Stok
Tidak semua pelanggan mengetahui bahwa toko masih buka ketika kondisi lingkungan berubah.
Pelaku UMKM dapat memanfaatkan WhatsApp Status untuk memberikan informasi sederhana.
Misalnya:
“Warung buka pukul 08.00–16.00. Melayani pesan antar dalam radius tertentu selama kondisi aman.”
Informasi seperti ini sederhana, tetapi dapat membantu pelanggan.
Selain itu, pemilik usaha dapat menginformasikan produk yang tersedia, jam operasional, metode pembayaran dan wilayah pengiriman.
Kuncinya adalah jangan memberikan informasi yang berlebihan atau menakut-nakuti.
Gunakan bahasa yang informatif dan tenang.
13. Gunakan Sistem Pre-Order untuk Mengurangi Risiko Stok
Pre-order dapat menjadi strategi menarik bagi usaha makanan dan produk rumahan.
Daripada membuat produk dalam jumlah besar, pelaku usaha dapat mengumpulkan pesanan terlebih dahulu.
Setelah jumlah pesanan diketahui, produksi dilakukan sesuai kebutuhan.
Strategi ini dapat mengurangi risiko makanan tidak terjual.
Model pre-order juga memungkinkan usaha tetap berjalan meskipun aktivitas pelanggan di sekitar lokasi mengalami penurunan.
Namun, tetap tetapkan batas pemesanan agar kapasitas produksi tidak melebihi kemampuan.
14. Bangun Kerja Sama dengan UMKM Lain
Bencana juga bisa menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi.
Pemilik warung dapat bekerja sama dengan usaha makanan rumahan. Reseller dapat bekerja sama dengan distributor lokal. Jasa pengantaran dapat berkolaborasi dengan toko dan penjual makanan.
Kerja sama tersebut dapat menciptakan ekosistem usaha lokal.
Contohnya, sebuah warung menyediakan kebutuhan rumah tangga, sementara UMKM kuliner memasok makanan dan pengemudi lokal membantu pengantaran.
Dengan sistem tersebut, keuntungan ekonomi dapat berputar di lingkungan sekitar.
Penguatan jaringan, akses pasar, inovasi dan digitalisasi memang menjadi bagian dari arah pengembangan UMKM di Indonesia.
15. Buat Rencana Bisnis untuk Kondisi Darurat
Pelaku usaha sebaiknya tidak menunggu bencana datang untuk memikirkan strategi.
Buatlah rencana sederhana mengenai apa yang harus dilakukan jika toko tidak dapat buka secara normal.
Misalnya:
- Produk apa yang paling penting untuk dipertahankan?
- Berapa stok minimum yang harus tersedia?
- Apakah pelanggan dapat memesan melalui WhatsApp?
- Apakah usaha mempunyai pemasok cadangan?
- Bagaimana jika akses jalan terputus?
- Apakah transaksi dapat dilakukan secara digital?
- Bagaimana cara menghubungi pelanggan jika toko tutup sementara?
Rencana tersebut tidak harus rumit.
Yang penting, pemilik usaha memiliki gambaran mengenai langkah yang harus dilakukan ketika kondisi berubah.
16. Jangan Memaksakan Operasional Jika Kondisi Tidak Aman
Ini merupakan poin yang sering dilupakan ketika membahas peluang usaha saat bencana.
Bisnis memang penting, tetapi keselamatan manusia tetap berada di atas omzet.
Jika pemerintah meminta masyarakat menghindari area tertentu, pelaku usaha harus mengikuti arahan tersebut.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada dalam pemantauan intensif dan rekomendasi keselamatan dapat berubah berdasarkan perkembangan aktivitas vulkanik. BMKG sebelumnya mengingatkan masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dan mematuhi rekomendasi otoritas terkait.
Karena itu, jangan menjadikan artikel peluang usaha sebagai alasan untuk membuka toko di area berbahaya.
Bisnis yang sehat adalah bisnis yang mampu beradaptasi tanpa mengorbankan keselamatan.
Peluang Usaha Bukan Berarti Mengambil Keuntungan dari Bencana
Ada perbedaan besar antara memanfaatkan peluang kebutuhan masyarakat dan memanfaatkan penderitaan masyarakat.
Pelaku UMKM yang menyediakan makanan, kebutuhan rumah tangga, layanan antar atau jasa digital sebenarnya membantu masyarakat beradaptasi.
Sebaliknya, menaikkan harga secara tidak wajar, menimbun barang atau menyebarkan informasi palsu demi meningkatkan penjualan merupakan tindakan yang dapat merusak kepercayaan.
Dalam kondisi bencana, reputasi menjadi aset yang sangat berharga.
Jika konsumen melihat sebuah usaha tetap jujur, transparan dan membantu, kemungkinan besar hubungan pelanggan akan bertahan bahkan setelah kondisi kembali normal.
Kesimpulan
Erupsi vulkanik memang dapat mengganggu aktivitas ekonomi. Mobilitas masyarakat berkurang, distribusi barang dapat terganggu dan sebagian toko mungkin harus menyesuaikan jam operasional.
Namun, perubahan kondisi juga menciptakan kebutuhan baru yang dapat menjadi peluang bagi UMKM.
Mulai dari penjualan kebutuhan harian dengan sistem pesan antar, makanan rumahan, produk kebersihan, paket kebutuhan dasar, reseller, jasa pengiriman lokal hingga layanan digital dapat menjadi pilihan selama dilakukan secara aman dan bertanggung jawab.
Kunci utamanya bukan sekadar mencari barang apa yang bisa dijual ketika bencana terjadi.
Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan konsumen, menjaga stok secara rasional, memanfaatkan teknologi, memperkuat hubungan dengan pemasok, menggunakan pemasaran digital dan tetap menjaga harga yang wajar.
UMKM memiliki peran penting dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat. Bank Indonesia juga menilai UMKM memiliki ketahanan ekonomi yang kuat dan terus mendorong pengembangan akses pasar, keuangan, kapasitas manajerial serta digitalisasi.
Karena itu, ketika erupsi vulkanik terjadi, strategi terbaik bukanlah sekadar mengejar keuntungan cepat.
Jadikan bisnis sebagai bagian dari solusi.
Jika masyarakat membutuhkan barang, sediakan dengan harga wajar. Jika pelanggan kesulitan keluar rumah, berikan alternatif pemesanan. Jika toko tidak dapat beroperasi normal, manfaatkan kanal digital. Dan jika kondisi benar-benar tidak aman, utamakan keselamatan sebelum memikirkan omzet.
Dengan pola pikir tersebut, UMKM bukan hanya mampu bertahan menghadapi situasi darurat, tetapi juga dapat membangun bisnis yang lebih tangguh menghadapi berbagai perubahan di masa depan.
