Dunia usaha tidak pernah berhenti berubah. Setelah pelaku UMKM beradaptasi dengan era media sosial, marketplace, pembayaran digital, hingga kecerdasan buatan atau AI, kini muncul pembicaraan tentang generasi berikutnya yang akan tumbuh dalam lingkungan teknologi yang jauh lebih terintegrasi.
Generasi tersebut dikenal sebagai Gen Beta.
Menurut McCrindle, Gen Beta merupakan kelompok yang lahir pada 2025 hingga 2039 dan menjadi generasi setelah Gen Alpha. Mereka diproyeksikan tumbuh dalam kondisi ketika AI, otomatisasi, perangkat pintar, dan dunia digital semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut tentu belum bisa dijadikan gambaran pasti mengenai perilaku setiap individu Gen Beta. Sebab, sebagian besar anggota generasi ini bahkan masih bayi atau belum lahir. Namun, perubahan teknologi dan lingkungan tempat mereka tumbuh dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku UMKM yang ingin menyiapkan bisnis untuk jangka panjang.
Bagi pemilik usaha kecil, membahas UMKM untuk Gen Beta bukan berarti harus langsung menjual produk kepada anak-anak yang baru lahir. Justru, pembahasannya lebih menarik jika diarahkan pada produk, layanan, dan model bisnis yang kemungkinan berkembang ketika Gen Beta mulai memasuki usia sekolah, remaja, hingga dewasa.
Dengan kata lain, peluang bisnis untuk Gen Beta dapat mulai dipikirkan dari sekarang.
Apa Itu Gen Beta?
Gen Beta adalah istilah yang diperkenalkan untuk generasi yang lahir mulai 2025 sampai 2039. Mereka mengikuti Gen Alpha yang umumnya didefinisikan sebagai generasi kelahiran 2010–2024.
McCrindle menggambarkan Gen Beta sebagai generasi yang akan tumbuh dengan integrasi teknologi dan AI yang semakin kuat. Pada 2030, anggota Gen Beta tertua akan mulai memasuki usia sekolah.
Kondisi tersebut membuat peluang UMKM di masa depan kemungkinan tidak hanya berputar pada toko fisik atau produk konvensional.
Bisnis bisa berkembang menjadi kombinasi antara produk fisik, layanan digital, pengalaman interaktif, personalisasi, dan teknologi.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa berbagai karakteristik Gen Beta saat ini masih berupa proyeksi. Perilaku nyata mereka baru dapat dipahami dengan lebih baik ketika generasi tersebut bertambah usia dan mulai membentuk pola konsumsi sendiri.
Karena itu, pelaku UMKM sebaiknya menggunakan informasi tentang Gen Beta sebagai bahan membaca tren masa depan, bukan sebagai aturan pasti mengenai semua calon konsumen.
Mengapa UMKM Perlu Mulai Memikirkannya?
Bisnis yang bertahan lama biasanya tidak hanya memikirkan konsumen hari ini. Pemilik usaha juga perlu melihat bagaimana kebutuhan masyarakat dapat berubah beberapa tahun ke depan.
Bank Indonesia pada 2026 menekankan bahwa transformasi digital semakin penting bagi UMKM untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta memperkuat akses terhadap ekosistem ekonomi digital. Strateginya mencakup digitalisasi pemasaran, pembiayaan, hingga pencatatan usaha.
Artinya, digitalisasi bukan lagi sekadar tambahan bagi bisnis kecil.
Bagi calon pelaku UMKM yang ingin membangun bisnis jangka panjang, kemampuan menggunakan teknologi dapat menjadi bagian dari fondasi usaha.
Ketika Gen Beta nantinya menjadi konsumen yang lebih aktif, mereka kemungkinan akan hidup dalam ekosistem yang jauh lebih terdigitalisasi dibandingkan generasi sebelumnya.
1. Produk Edukasi yang Menggabungkan Teknologi
Salah satu peluang UMKM untuk Gen Beta dapat datang dari sektor edukasi.
Anak-anak masa depan akan tumbuh dengan akses terhadap perangkat digital dan teknologi AI. McCrindle memperkirakan AI akan menjadi bagian dari pengalaman pendidikan Gen Beta, termasuk pembelajaran yang semakin personal dan berdasarkan kebutuhan pengguna.
Hal ini dapat membuka ruang bagi bisnis kecil untuk membuat produk edukasi kreatif.
Misalnya, pelaku UMKM dapat mengembangkan:
- kartu edukasi interaktif;
- buku aktivitas anak;
- permainan edukatif;
- kit eksperimen sederhana;
- produk belajar berbasis cerita;
- lembar aktivitas digital;
- mainan yang memiliki unsur pembelajaran;
- paket aktivitas kreatif untuk keluarga.
Produk tersebut tidak harus langsung menggunakan teknologi yang mahal.
UMKM bisa memulai dari produk fisik kemudian menambahkan elemen digital seperti QR code yang mengarah ke video pembelajaran, audio cerita, panduan aktivitas, atau materi tambahan.
2. Mainan Edukatif yang Tidak Sekadar Menghibur
Mainan merupakan salah satu kategori yang menarik untuk dikembangkan.
Namun, konsep mainan masa depan tidak harus selalu berarti perangkat elektronik canggih.
Justru, bisnis dapat menggabungkan permainan fisik dengan aktivitas kreatif dan teknologi.
Contohnya adalah paket permainan yang mengajak anak menyusun bentuk, mengenal warna, memecahkan masalah, membuat kerajinan, atau melakukan eksperimen sederhana.
Produk seperti ini bisa dikemas dalam konsep berlangganan bulanan.
Setiap bulan, pelanggan mendapatkan kotak aktivitas dengan tema berbeda.
Model bisnis tersebut berpotensi memberikan pendapatan berulang sekaligus membuat pelanggan memiliki alasan untuk kembali membeli.
3. Bisnis Personalisasi
Salah satu tren yang diperkirakan berkaitan dengan Gen Beta adalah personalisasi.
McCrindle memperkirakan Gen Beta akan tumbuh dalam lingkungan ketika teknologi dapat semakin menyesuaikan pengalaman belajar, belanja, dan interaksi berdasarkan kebutuhan individu.
Bagi UMKM, personalisasi tidak harus dilakukan menggunakan teknologi rumit.
Contohnya:
Produk pakaian anak: nama pelanggan dapat ditambahkan pada desain.
Buku anak: karakter utama dapat dibuat berdasarkan nama atau pilihan anak.
Perlengkapan sekolah: desain bisa dipilih sendiri oleh pelanggan.
Kado: pelanggan dapat menentukan tema, warna, tulisan, dan kemasan.
Konsep tersebut dapat dimulai dengan sistem sederhana melalui formulir pemesanan.
Jika jumlah pesanan semakin besar, otomatisasi dapat ditambahkan secara bertahap.
4. UMKM Produk Ramah Lingkungan
Gen Beta juga diproyeksikan tumbuh di tengah berbagai persoalan lingkungan dan perubahan sosial. McCrindle memperkirakan keberlanjutan atau sustainability akan menjadi salah satu isu penting yang membentuk lingkungan tempat Gen Beta tumbuh.
Ini dapat menjadi peluang bagi UMKM.
Pelaku usaha dapat mengembangkan produk dengan memperhatikan penggunaan bahan, kemasan, daya tahan, serta kemungkinan penggunaan kembali.
Contohnya adalah:
- tas anak yang dapat digunakan berkali-kali;
- alat makan yang dapat digunakan ulang;
- kemasan minim plastik;
- mainan berbahan tertentu yang lebih tahan lama;
- produk kerajinan dari bahan yang tersedia secara lokal;
- pakaian anak yang dirancang agar dapat digunakan lebih lama.
Tidak perlu membuat klaim “paling ramah lingkungan” jika belum memiliki dasar yang jelas.
Lebih baik menjelaskan secara transparan bahan dan proses yang digunakan.
5. Bisnis Kreatif Berbasis Budaya Lokal
Teknologi tidak harus membuat produk UMKM kehilangan identitas lokal.
Justru, teknologi dapat digunakan untuk memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara yang lebih menarik.
Misalnya, UMKM dapat membuat permainan yang memperkenalkan cerita rakyat, kartu bergambar pakaian tradisional, puzzle tentang daerah Indonesia, buku aktivitas mengenai makanan tradisional, atau produk dekorasi dengan unsur budaya lokal.
Produk tersebut dapat dipasarkan melalui platform digital sehingga calon pembeli dari daerah berbeda dapat mengenalnya.
Bank Indonesia juga menyoroti potensi generasi muda dalam mendorong inovasi, kewirausahaan, dan regenerasi UMKM, termasuk sektor berbasis keterampilan dan budaya seperti wastra serta kriya.
Ini menunjukkan bahwa inovasi digital dan produk lokal tidak harus berjalan sendiri-sendiri.
Keduanya dapat dikombinasikan.
6. Konten Kreatif untuk Orang Tua Gen Beta
Ada satu hal yang sering terlewat ketika membahas bisnis untuk Gen Beta.
Konsumen yang melakukan pembelian pada masa awal kehidupan Gen Beta tentu bukan anaknya sendiri.
Orang tua memiliki peran besar dalam menentukan produk yang digunakan anak.
Karena itu, bisnis yang menyasar keluarga Gen Beta juga dapat mengembangkan konten edukatif bagi orang tua.
Misalnya:
- panduan memilih mainan;
- ide aktivitas anak di rumah;
- tips mengatur ruang belajar;
- inspirasi kegiatan keluarga;
- rekomendasi aktivitas kreatif;
- informasi penggunaan teknologi yang sesuai usia.
Konten tersebut dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran sekaligus membangun kepercayaan.
Dengan begitu, UMKM tidak hanya menjual barang, tetapi juga menyediakan informasi yang relevan bagi keluarga.
7. Jasa Digital untuk Bisnis yang Menyasar Keluarga
Peluang UMKM untuk Gen Beta juga tidak harus berbentuk produk anak.
Jasa digital dapat menjadi bagian dari ekosistem bisnis tersebut.
Contohnya adalah jasa desain konten, pengelolaan media sosial, pembuatan katalog digital, fotografi produk, video pendek, desain kemasan, hingga pembuatan website sederhana.
Semakin banyak bisnis keluarga dan produk anak yang masuk ke dunia digital, kebutuhan terhadap jasa pendukung juga dapat berkembang.
Ini menjadi peluang terutama bagi individu yang memiliki keterampilan desain, editing video, fotografi, copywriting, atau pengelolaan platform digital.
8. Bisnis Langganan Bisa Menjadi Alternatif
Model subscription atau langganan dapat digunakan untuk produk tertentu.
Misalnya, UMKM membuat paket aktivitas anak yang dikirim setiap bulan.
Bulan pertama bertema sains.
Bulan berikutnya bertema seni.
Bulan selanjutnya bertema budaya Indonesia.
Konsep seperti ini membuat pelanggan tidak perlu mencari produk baru setiap bulan.
Namun, sebelum menerapkannya, pelaku UMKM perlu menghitung biaya produksi, pengemasan, pengiriman, tingkat pembatalan pelanggan, serta kemampuan bisnis memenuhi pesanan secara konsisten.
Jangan sampai model langganan justru membuat usaha kewalahan.
9. AI Bisa Menjadi Alat Bantu UMKM
Jika Gen Beta tumbuh dalam lingkungan yang semakin dekat dengan AI, pelaku UMKM juga perlu memahami teknologi tersebut.
AI dapat digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan bisnis, seperti mencari ide konten, membuat variasi deskripsi produk, menganalisis data penjualan, menyusun kalender konten, atau membantu proses administratif tertentu.
Namun, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti seluruh proses kreatif.
Pelaku UMKM tetap perlu memeriksa informasi, menjaga kualitas, memahami pelanggan, dan memastikan konten yang dipublikasikan sesuai dengan identitas bisnis.
Bank Indonesia sendiri pada 2026 menekankan pentingnya inovasi digital dalam mendorong UMKM naik kelas.
10. Jangan Terjebak Menganggap Gen Beta Hanya Konsumen Anak
Ini merupakan hal penting.
Gen Beta saat ini baru mulai lahir sehingga belum tepat membuat kesimpulan pasti mengenai bagaimana mereka akan berbelanja ketika dewasa.
Seorang bayi yang lahir pada 2025 akan memiliki pengalaman sosial, ekonomi, teknologi, dan budaya yang sangat berbeda ketika berusia 15 atau 20 tahun.
Teknologi yang populer sekarang mungkin sudah berubah.
Model bisnis yang saat ini terlihat menarik juga bisa kehilangan relevansi.
Karena itu, strategi UMKM yang paling masuk akal adalah membangun kemampuan beradaptasi.
Daripada membuat satu produk khusus dan berharap produk tersebut tetap populer selama puluhan tahun, lebih baik membangun bisnis yang mampu melakukan inovasi secara berkala.
11. Mulai dari Masalah, Bukan dari Label Generasi
Kesalahan lain yang perlu dihindari adalah terlalu fokus pada label “Gen Beta”.
Pelaku usaha sebaiknya tetap bertanya:
Masalah apa yang ingin diselesaikan?
Apakah orang tua membutuhkan aktivitas anak tanpa layar?
Apakah keluarga membutuhkan produk edukatif yang praktis?
Apakah sekolah membutuhkan alat pembelajaran kreatif?
Apakah konsumen membutuhkan produk yang dapat dipersonalisasi?
Apakah keluarga membutuhkan pengalaman belajar yang menggabungkan dunia fisik dan digital?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut bisa menghasilkan ide bisnis yang jauh lebih konkret.
Label generasi hanya menjadi salah satu bahan untuk membaca perubahan masyarakat.
12. Bangun Bisnis yang Bisa Beradaptasi
UMKM yang ingin bertahan dalam jangka panjang perlu memiliki kemampuan untuk berubah.
Teknologi berubah.
Platform berubah.
Kebiasaan konsumen berubah.
Bahkan cara orang menemukan produk juga dapat berubah.
Karena itu, sejak awal pelaku usaha sebaiknya membangun aset bisnis yang tidak hanya bergantung pada satu platform.
Miliki database pelanggan yang dikelola secara legal dan bertanggung jawab, dokumentasikan proses kerja, bangun identitas merek, buat katalog produk yang mudah diperbarui, dan terus evaluasi kebutuhan konsumen.
Dengan fondasi seperti itu, bisnis akan lebih mudah melakukan penyesuaian ketika tren baru muncul.
Ide UMKM Gen Beta yang Bisa Dipersiapkan
Jika ingin dirangkum, terdapat sejumlah ide yang dapat menjadi inspirasi awal:
- Kit aktivitas edukasi anak dengan tema berbeda setiap bulan.
- Mainan edukatif yang menggabungkan permainan fisik dan materi digital.
- Buku personalisasi dengan nama dan karakter pelanggan.
- Produk kerajinan budaya Indonesia dengan kemasan modern.
- Perlengkapan anak custom yang dapat dipersonalisasi.
- Jasa konten digital untuk bisnis keluarga dan produk anak.
- Paket langganan aktivitas kreatif untuk keluarga.
- Produk ramah guna ulang untuk kebutuhan anak.
- Kelas kreatif online dengan materi interaktif.
- Platform atau layanan pendukung orang tua yang menyederhanakan kebutuhan tertentu.
Daftar tersebut bukan prediksi bisnis mana yang pasti berhasil. Keberhasilannya tetap bergantung pada kebutuhan pasar, kualitas produk, harga, pemasaran, kemampuan operasional, dan perubahan teknologi.
Kesimpulan
UMKM untuk Gen Beta merupakan topik yang menarik karena generasi ini akan tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Beta didefinisikan sebagai mereka yang lahir pada 2025–2039, dan berbagai analisis memproyeksikan AI serta teknologi terintegrasi akan menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Namun, pelaku UMKM tidak perlu terburu-buru menciptakan bisnis yang sepenuhnya bergantung pada prediksi masa depan.
Langkah yang lebih masuk akal adalah mulai membangun kemampuan digital, memahami kebutuhan keluarga, mengembangkan produk yang fleksibel, memperhatikan personalisasi, mengeksplorasi produk edukasi, serta menggabungkan teknologi dengan kreativitas lokal.
UMKM masa depan tidak selalu berarti bisnis dengan teknologi paling mahal.
Bisnis kecil tetap memiliki peluang selama mampu menawarkan sesuatu yang berguna, mudah digunakan, memiliki identitas yang kuat, dan mampu mengikuti perubahan kebutuhan konsumen.
Gen Beta mungkin baru saja memasuki dunia. Namun, bagi pelaku usaha, kehadirannya dapat menjadi pengingat bahwa membangun bisnis bukan hanya tentang menjual untuk hari ini, tetapi juga menyiapkan kemampuan untuk menghadapi konsumen di masa depan.
