Mulai 2026, Komisi Digital Indonesia (Komdigi) berencana menindak tegas semua game yang tidak mematuhi sistem rating IGRS (Indonesian Game Rating System). Kebijakan ini bertujuan melindungi pemain, terutama anak-anak dan remaja, dari konten yang tidak sesuai usia. Langkah ini dipandang penting bagi industri game Indonesia yang semakin berkembang pesat, namun menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengembang lokal.
Apa Itu Sistem Rating IGRS?
IGRS adalah sistem klasifikasi usia dan konten game yang diterapkan di Indonesia. Sistem ini mengkategorikan game berdasarkan:
-
Usia Pemain: Rekomendasi untuk anak-anak, remaja, dan dewasa.
-
Konten Sensitif: Kekerasan, bahasa kasar, konten seksual, atau perjudian virtual.
-
Peringatan dan Label: Game yang tidak patuh harus diberi label jelas, termasuk deskripsi risiko konten.
IGRS bertujuan memberi informasi transparan kepada pemain dan orang tua, serta menjaga industri game tetap bertanggung jawab.
Dampak Take Down Game oleh Komdigi
Komdigi menegaskan bahwa game yang tidak mematuhi standar IGRS akan ditarik dari platform digital dan toko aplikasi resmi. Dampaknya:
-
Pengembang Terpaksa Menyesuaikan Game
Game lokal maupun internasional yang masuk pasar Indonesia harus memastikan semua konten sesuai kategori IGRS. Pengembang yang mengabaikan peraturan akan menghadapi penghapusan paksa. -
Pemain Bisa Kehilangan Akses
Game yang sebelumnya tersedia secara online dapat hilang dari server atau toko aplikasi, memengaruhi pemain aktif. -
Platform Digital Terkait Akan Dipantau
Toko aplikasi, marketplace, dan platform distribusi game juga diwajibkan mematuhi aturan ini. Komdigi akan memantau kepatuhan secara rutin.
Keluhan Pengembang Game Lokal
Pengembang lokal menyampaikan beberapa kekhawatiran:
-
Biaya Penyesuaian Konten
Menyesuaikan game agar sesuai rating IGRS memerlukan biaya tambahan, termasuk audit konten dan pengembangan ulang bagian yang bermasalah. -
Waktu Produksi Bertambah
Proses penyesuaian dapat menambah 2–6 bulan waktu produksi, terutama bagi game dengan banyak konten interaktif. -
Dampak pada Pendapatan
Game yang ditunda atau dihapus dari platform berpotensi kehilangan pemain dan pendapatan.
Salah satu pengembang indie di Surabaya menyebutkan:
“Kami mendukung IGRS, tapi biaya tambahan untuk audit dan revisi cukup besar. Studio kecil seperti kami harus cermat mengatur anggaran.”
Perspektif Pemerintah
Komdigi menegaskan bahwa kebijakan ini untuk melindungi pemain muda dan industri game itu sendiri. Beberapa poin penting dari pemerintah:
-
Kepatuhan IGRS Wajib
Semua game, lokal maupun internasional, harus mematuhi rating dan label konten. -
Sosialisasi ke Pengembang
Komdigi akan memberikan panduan dan workshop untuk membantu pengembang memahami standar IGRS. -
Penegakan Konsisten
Take down game yang melanggar akan diterapkan secara tegas mulai awal 2026.
Menteri Kominfo menambahkan:
“Industri game Indonesia harus tumbuh dengan bertanggung jawab. Rating IGRS adalah standar untuk memastikan konten aman dan edukatif.”
Strategi Pengembang Menghadapi Kebijakan IGRS
Beberapa strategi yang diterapkan studio game lokal:
-
Audit Internal Konten
Sebelum peluncuran, pengembang melakukan audit internal untuk menyesuaikan semua konten dengan kategori usia dan sensitivitas. -
Kolaborasi dengan Konsultan Rating
Pengembang bekerja sama dengan konsultan profesional untuk memastikan game memenuhi standar IGRS. -
Peluncuran Bertahap
Beberapa studio meluncurkan versi beta untuk mendapat masukan pemain dan menyesuaikan konten sebelum dirilis secara penuh.
Dampak Positif dari Sistem Rating IGRS
Meski menimbulkan beban tambahan, IGRS membawa keuntungan bagi industri game:
-
Melindungi Pemain Muda: Anak-anak dan remaja mendapat konten yang sesuai usia.
-
Meningkatkan Reputasi Game Lokal: Game yang patuh mendapat label aman dan profesional.
-
Mendorong Standar Industri: Semua pengembang terdorong untuk meningkatkan kualitas dan etika konten.
Studi Kasus: Game MOBA Lokal
Salah satu game MOBA lokal yang menggunakan konten interaktif harus melakukan revisi besar agar sesuai IGRS. Audit konten menemukan beberapa animasi dan kata-kata yang tidak cocok untuk kategori remaja. Proses penyesuaian menambah biaya sekitar 15% dari total anggaran, namun setelah selesai, game mendapat rating resmi dan meningkatnya kepercayaan pemain.
Kesimpulan
Sistem rating IGRS yang akan diterapkan mulai 2026 adalah langkah strategis untuk menjaga keamanan dan kualitas konten game di Indonesia. Pengembang lokal menghadapi tantangan berupa biaya tambahan, revisi konten, dan waktu produksi lebih lama, tetapi hal ini juga membuka peluang untuk meningkatkan kualitas dan reputasi industri game.
Dengan kepatuhan pada IGRS, pemain Indonesia, khususnya anak-anak dan remaja, akan menikmati konten yang aman, edukatif, dan bertanggung jawab, sementara industri game lokal tetap dapat tumbuh secara profesional dan kompetitif di pasar global.
