Di tengah banyaknya makanan modern yang bermunculan di media sosial, kue tradisional ternyata belum kehilangan tempat di hati konsumen. Jajanan seperti klepon, onde-onde, kue lapis, putu ayu, dadar gulung, lemper, kue talam, hingga kue cucur masih memiliki pasar tersendiri.
Kondisi tersebut membuat ide UMKM kue tradisional menarik untuk dipertimbangkan, terutama bagi calon pelaku usaha yang ingin memulai bisnis kuliner dari rumah.
Kue tradisional mempunyai beberapa keunggulan. Bahan bakunya relatif mudah ditemukan, resepnya sudah dikenal masyarakat, pilihan produknya sangat banyak, dan target konsumennya tidak terbatas pada satu kelompok usia. Selain untuk camilan, kue tradisional juga sering digunakan untuk rapat, arisan, pengajian, acara keluarga, hajatan, hingga kebutuhan hampers.
Sejumlah pelaku UMKM bahkan memulai usaha kue tradisional dengan skala sederhana dari rumah. Ada yang memasarkannya kepada teman, tetangga, kantor, warung, hingga menggunakan sistem titip jual. RRI pada 2026 juga menyoroti bahwa kue tradisional masih diminati dan dapat menjadi peluang usaha dengan bahan lokal serta modal yang relatif terjangkau.
Namun, peluang tersebut bukan berarti bisnis kue tradisional bisa berjalan tanpa strategi. Persaingan tetap ada. Karena itu, produk yang dijual harus memiliki alasan mengapa konsumen memilihnya dibandingkan penjual lain.
Mengapa Kue Tradisional Menarik untuk Dijadikan UMKM?
Salah satu daya tarik bisnis kue tradisional adalah fleksibilitasnya.
Pelaku usaha tidak harus langsung membuka toko atau menyewa tempat. Produksi dapat dilakukan dari dapur rumah dengan jumlah yang disesuaikan dengan pesanan.
Model seperti ini cocok bagi pemula karena risiko stok berlebihan bisa ditekan. Sistem pre-order misalnya, memungkinkan produk dibuat setelah jumlah pesanan diketahui.
Kue tradisional juga memiliki nilai nostalgia. Bagi konsumen dewasa, beberapa jenis jajanan dapat mengingatkan mereka pada makanan masa kecil. Sementara bagi generasi muda, kue tradisional bisa menjadi pengalaman kuliner yang menarik apabila dikemas dengan tampilan yang lebih modern.
Selain itu, produk tradisional dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kuliner lokal. Contohnya, UMKM di berbagai daerah menjual kue khas setempat sebagai produk konsumsi maupun oleh-oleh.
Pilihan Produk untuk Memulai Bisnis
Calon pelaku usaha tidak perlu langsung menjual puluhan jenis kue. Justru lebih baik memilih beberapa produk terlebih dahulu.
Beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan antara lain:
1. Dadar Gulung
Dadar gulung memiliki warna khas dengan isian kelapa dan gula merah. Produk ini bisa dijual dalam bentuk satuan maupun paket.
Agar lebih menarik, pelaku UMKM dapat membuat ukuran mini untuk konsumsi acara atau paket campuran.
2. Klepon
Klepon memiliki karakter yang mudah dikenali. Tekstur kenyal, kelapa parut, dan isian gula merah menjadi daya tarik utamanya.
Inovasi bisa dilakukan pada bentuk dan kemasan tanpa menghilangkan ciri khas produknya.
3. Kue Lapis
Kue lapis cocok dijadikan produk jualan karena dapat dipotong dalam ukuran kecil maupun dikemas dalam kotak.
Warna yang menarik juga membuat kue ini cukup mudah difoto untuk kebutuhan promosi media sosial.
4. Putu Ayu
Putu ayu memiliki aroma pandan dan kelapa yang kuat. Produk ini dapat menjadi pilihan untuk pasar sarapan, jajanan kantor, maupun snack box.
5. Onde-Onde
Onde-onde dapat dijual secara satuan, paket kecil, atau paket khusus untuk acara.
Jika ingin melakukan inovasi, pelaku usaha bisa menawarkan beberapa ukuran dengan tetap mempertahankan karakter utama produk.
6. Kue Talam
Kue talam dapat dibuat dalam beberapa variasi rasa. Produk ini cocok untuk pasar jajanan pasar dan pesanan acara.
7. Lemper
Berbeda dengan kue manis, lemper bisa menjadi produk gurih dalam lini usaha. Kombinasi beberapa jenis jajanan membuat paket jualan menjadi lebih menarik.
Jangan Menjual Terlalu Banyak Varian di Awal
Kesalahan yang cukup sering dilakukan oleh pemula adalah membuat terlalu banyak produk sejak hari pertama.
Misalnya, seorang penjual baru ingin menyediakan 15 jenis kue sekaligus. Akibatnya, bahan baku menjadi semakin banyak, proses produksi rumit, dan sulit mengetahui produk mana yang benar-benar diminati.
Lebih baik mulai dari tiga sampai lima produk.
Setelah penjualan mulai stabil, data pesanan dapat digunakan untuk menentukan varian tambahan.
Jika ternyata klepon dan dadar gulung selalu habis lebih cepat dibandingkan produk lain, kedua produk tersebut dapat dijadikan menu utama.
Cara ini juga membantu mengurangi pemborosan bahan baku.
Buat Konsep “Paket Jajanan Tradisional”
Daripada hanya menjual kue satuan, pelaku UMKM dapat membuat paket.
Contohnya:
- Paket sarapan.
- Paket jajanan kantor.
- Paket arisan.
- Paket rapat.
- Paket pengajian.
- Paket acara keluarga.
- Paket hampers.
- Paket jajanan pasar campur.
Konsep paket memberikan kesempatan untuk meningkatkan nilai transaksi.
Misalnya, konsumen yang awalnya hanya ingin membeli lima kue dapat tertarik mengambil satu kotak berisi beberapa jenis jajanan karena tampilannya lebih praktis.
Paket juga memudahkan konsumen ketika membutuhkan makanan untuk acara.
Kemasan Bisa Menjadi Pembeda
Produk yang enak belum tentu terlihat menarik ketika pertama kali dilihat.
Karena itu, kemasan harus menjadi bagian dari strategi bisnis.
Kue tradisional tidak harus selalu dikemas menggunakan plastik sederhana. Untuk pesanan premium, pelaku UMKM dapat menggunakan kotak makanan dengan desain sederhana, label merek, dan informasi produk.
Untuk penjualan harian, kemasan ekonomis tetap dapat digunakan selama bersih, aman, dan mampu menjaga kualitas makanan.
Pengemasan yang lebih menarik juga dapat membantu ketika produk ingin masuk ke toko modern atau dipasarkan sebagai oleh-oleh. RRI mencatat adanya pelaku UMKM kue tradisional yang meningkatkan daya tarik produknya melalui kemasan yang lebih estetik.
Buat Identitas Merek yang Mudah Diingat
Nama usaha tidak harus rumit.
Justru nama yang mudah dibaca dan diingat bisa menjadi pilihan.
Misalnya menggunakan nama yang berkaitan dengan:
- Nama daerah.
- Nama keluarga.
- Bahan utama.
- Cerita di balik resep.
- Karakter produk.
- Istilah khas daerah.
Setelah memiliki nama, gunakan identitas tersebut secara konsisten pada kemasan, akun media sosial, katalog, dan kartu ucapan.
Tujuannya agar konsumen tidak hanya mengingat jenis kuenya, tetapi juga mengingat siapa yang membuatnya.
Manfaatkan Media Sosial untuk Menjual Kue Tradisional
Bisnis kue tradisional saat ini tidak harus bergantung pada pasar fisik.
Media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen sekitar.
Konten yang bisa dibuat cukup sederhana, misalnya:
- Video proses membuat kue.
- Kue yang baru selesai dikukus.
- Proses memasukkan produk ke kemasan.
- Testimoni pelanggan.
- Paket pesanan untuk acara.
- Menu harian.
- Video pemotongan kue.
- Behind the scenes produksi.
Tidak semua konten harus dibuat seperti iklan.
Konten yang memperlihatkan proses pembuatan justru dapat membuat calon pembeli lebih mengenal produk.
Platform digital juga dapat membantu usaha rumahan menjangkau konsumen yang lebih luas. Pengembangan pemasaran melalui media online dan e-commerce telah menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam pengembangan usaha kue tradisional rumahan.
Gunakan Sistem Pre-Order
Sistem pre-order cocok bagi pelaku usaha yang masih memiliki modal terbatas.
Contohnya, penjual membuka pesanan setiap Senin sampai Rabu untuk pengiriman pada Jumat.
Dengan sistem tersebut, jumlah produksi dapat diperkirakan sebelum proses pembuatan dilakukan.
Keuntungan lainnya adalah risiko makanan tersisa dapat ditekan.
Model pre-order juga cocok untuk produk seperti hampers, snack box, dan paket acara yang jumlah pesanannya biasanya sudah diketahui.
Titip Jual Bisa Menjadi Jalan Masuk ke Pasar Lokal
Selain berjualan langsung kepada konsumen, produk kue tradisional dapat ditawarkan kepada warung, kedai kopi, kantin, toko oleh-oleh, atau tempat lain yang relevan.
Sistem titip jual memungkinkan produk diperkenalkan kepada konsumen baru tanpa harus membuka toko sendiri.
Namun, kerja sama harus memiliki aturan yang jelas.
Pelaku usaha perlu menentukan harga, jumlah barang, sistem pembayaran, jadwal pengambilan produk yang tidak terjual, serta standar penyimpanan.
Pengalaman UMKM kue tradisional yang diberitakan RRI menunjukkan bahwa sistem titip jual dapat digunakan untuk memperluas jangkauan pemasaran usaha rumahan.
Jangan Abaikan Perhitungan Modal
Harga jual tidak boleh hanya ditentukan berdasarkan harga bahan baku.
Pelaku usaha harus menghitung seluruh biaya.
Beberapa komponen yang perlu diperhatikan antara lain:
- Tepung.
- Gula.
- Kelapa.
- Santan.
- Telur.
- Pewarna atau bahan tambahan.
- Gas atau listrik.
- Kemasan.
- Label.
- Transportasi.
- Biaya pemasaran.
- Tenaga kerja.
- Produk yang rusak atau tidak terjual.
Setelah seluruh biaya diketahui, barulah harga jual ditentukan.
Pencatatan sederhana menggunakan buku atau spreadsheet sudah cukup untuk tahap awal.
Yang paling penting adalah mengetahui apakah setiap produk benar-benar memberikan keuntungan.
Buat Satu Produk sebagai Signature
Jika sudah memiliki beberapa menu, pilih satu produk yang ingin dijadikan ciri khas.
Misalnya, usaha dikenal sebagai penjual dadar gulung dengan isian melimpah. Atau dikenal karena klepon ukuran mini untuk acara.
Produk signature dapat membantu membangun identitas.
Jangan mencoba menjadi penjual semua jenis kue sekaligus tanpa memiliki pembeda. Konsumen akan lebih mudah mengingat bisnis yang memiliki karakter tertentu.
Inovasi Boleh, Tetapi Jangan Menghilangkan Identitas
Kue tradisional memang bisa dibuat lebih modern.
Contohnya melalui:
- Ukuran mini.
- Kemasan premium.
- Paket hampers.
- Bentuk yang lebih praktis.
- Kombinasi beberapa produk.
- Varian rasa terbatas.
- Penyajian yang lebih menarik.
Namun, inovasi sebaiknya tidak menghilangkan karakter utama.
Jika terlalu banyak modifikasi, konsumen justru bisa kehilangan pengalaman menikmati kue tradisional.
Keseimbangan antara resep khas dan tampilan modern menjadi salah satu pendekatan yang banyak disarankan dalam pengembangan bisnis kue tradisional.
Target Konsumen Tidak Harus Semua Orang
Menentukan target pasar akan membuat strategi penjualan lebih jelas.
Untuk kue tradisional, beberapa target yang bisa dibidik antara lain:
Pekerja kantor: cocok dengan paket sarapan dan snack box.
Ibu rumah tangga: dapat menjadi pasar untuk konsumsi keluarga atau acara.
Mahasiswa: bisa ditawarkan dalam kemasan ekonomis.
Penyelenggara acara: membutuhkan produk dalam jumlah besar.
Wisatawan: dapat menjadi target untuk produk khas daerah dan oleh-oleh.
Perusahaan: berpotensi membutuhkan snack untuk rapat atau kegiatan internal.
Dengan target yang jelas, ukuran produk, harga, kemasan, hingga cara promosi bisa disesuaikan.
Kunci Utamanya Bukan Sekadar Enak
Rasa tetap menjadi faktor penting, tetapi bisnis makanan membutuhkan lebih dari itu.
Produk harus memiliki kualitas yang konsisten.
Jika hari ini kue terasa enak tetapi besok rasanya berubah, pelanggan akan sulit membangun kepercayaan.
Karena itu, resep perlu dibuat dengan takaran yang jelas. Proses produksi juga sebaiknya memiliki standar sederhana agar hasilnya tidak terlalu berbeda setiap hari.
Konsistensi rasa, tampilan, pelayanan, dan kualitas menjadi bagian penting dalam membangun pelanggan tetap.
Peluang Bisnis yang Bisa Berkembang dari Rumah
Menariknya, bisnis kue tradisional dapat dimulai dalam skala kecil kemudian dikembangkan secara bertahap.
Tahap pertama bisa berupa pesanan tetangga.
Tahap berikutnya masuk ke grup komunitas, kantor, atau sekolah.
Setelah produksi semakin stabil, usaha dapat mencoba titip jual.
Berikutnya, produk bisa diarahkan menjadi hampers atau oleh-oleh.
Jika permintaan semakin besar, pelaku UMKM dapat mempertimbangkan peralatan produksi yang lebih efisien dan pengurusan legalitas yang sesuai dengan kebutuhan usaha.
Dengan pola seperti ini, pertumbuhan bisnis tidak harus dilakukan sekaligus.
Kesimpulan
Ide UMKM kue tradisional masih layak dipertimbangkan bagi siapa saja yang ingin memulai usaha kuliner dengan skala rumahan. Kekuatan bisnis ini terletak pada produk yang sudah dikenal masyarakat, pilihan menu yang sangat beragam, bahan baku lokal, serta peluang penjualan untuk konsumsi harian maupun berbagai acara.
Namun, resep tradisional saja tidak cukup.
Pelaku usaha perlu memikirkan identitas merek, kemasan, target konsumen, sistem pre-order, titip jual, pencatatan biaya, serta pemasaran melalui media sosial.
Cara paling aman untuk memulai adalah tidak langsung mengejar produksi dalam jumlah besar. Pilih beberapa jenis kue, uji respons konsumen, catat produk yang paling banyak dipesan, kemudian kembangkan menu secara bertahap.
Dengan pendekatan tersebut, dapur rumah bukan hanya tempat membuat camilan, tetapi juga dapat menjadi titik awal sebuah bisnis kuliner yang memiliki peluang untuk berkembang.
Kue tradisional mungkin berasal dari resep lama, tetapi cara menjualnya tidak harus ketinggalan zaman.
