Tinggal di kawasan pegunungan berapi memiliki tantangan tersendiri. Masyarakat harus memahami potensi erupsi, abu vulkanik, lahar, hingga perubahan aktivitas gunung yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Namun, kawasan gunung berapi juga menyimpan potensi ekonomi yang besar.

Panorama alam, udara pegunungan, hasil pertanian, perkebunan, kuliner tradisional, kerajinan, budaya masyarakat, hingga aktivitas wisata dapat menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar.

Di sinilah UMKM memiliki peran penting.

Usaha kecil tidak harus selalu dibangun di pusat kota. Justru daerah yang mempunyai karakter kuat dapat menciptakan produk yang sulit ditiru oleh daerah lain.

Kopi dari lereng gunung, sayuran dataran tinggi, makanan khas desa, oleh-oleh berbahan hasil pertanian, jasa pemandu wisata, homestay, hingga produk kerajinan dapat dikembangkan menjadi bisnis yang memiliki identitas.

Bahkan, perkembangan wisata berbasis pertanian semakin membuka peluang bagi masyarakat untuk menggabungkan aktivitas produksi dengan pengalaman wisata. Dalam klasifikasi usaha wisata agro, kegiatan pertanian, pengolahan hasil, edukasi, makanan-minuman, hingga penjualan produk pertanian dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Artinya, tinggal di sekitar gunung berapi tidak hanya berarti menghadapi risiko alam. Jika dikelola secara bijak dan tetap memperhatikan keselamatan, kawasan tersebut juga dapat menjadi sumber berbagai peluang usaha.

Mengapa Kawasan Gunung Berapi Menarik untuk UMKM?

Setiap daerah sebenarnya mempunyai potensi bisnis.

Namun, kawasan pegunungan berapi mempunyai satu keunggulan yang sulit dibuat oleh kompetitor dari tempat lain: cerita tentang asal-usul produk.

Bayangkan sebuah produk kopi.

Kopi biasa mungkin hanya dijual dengan nama jenis biji dan tingkat sangrai.

Namun, kopi yang berasal dari lereng gunung dapat mempunyai cerita lebih kuat.

Misalnya, siapa petaninya, dari ketinggian berapa tanaman ditanam, bagaimana proses panennya, bagaimana kondisi tanahnya, bagaimana masyarakat mengolah biji kopi, dan seperti apa karakter rasa yang dihasilkan.

Cerita tersebut dapat menjadi bagian dari branding.

Hal serupa berlaku untuk sayuran, teh, rempah, buah, makanan ringan, kerajinan, hingga produk wisata.

WarungTerkini.id sendiri dalam beberapa artikel UMKM sebelumnya menyoroti pentingnya cerita produk, identitas lokal, dan pemanfaatan media sosial untuk membuat usaha kecil lebih mudah dikenal.

Dengan kata lain, potensi alam dapat diubah menjadi nilai ekonomi apabila dikemas dengan tepat.

1. Mengembangkan Produk Olahan Hasil Pertanian

Salah satu peluang paling realistis adalah mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

Jangan hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah.

Jika petani menghasilkan kopi, misalnya, peluang bisnis tidak berhenti pada penjualan biji kopi.

Produk dapat dikembangkan menjadi:

  • kopi sangrai;
  • kopi bubuk;
  • kopi drip bag;
  • kopi siap minum;
  • paket kopi oleh-oleh;
  • hampers kopi;
  • produk kopi premium;
  • paket edukasi kopi.

Begitu pula dengan hasil pertanian lain.

Kentang dapat diolah menjadi keripik.

Ubi dapat menjadi makanan ringan.

Cabai dapat diolah menjadi sambal kemasan.

Buah dapat menjadi selai atau keripik.

Rempah dapat dikembangkan menjadi minuman herbal.

Konsep sederhananya adalah meningkatkan nilai produk sebelum sampai ke konsumen.

Petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga dapat menjadi bagian dari rantai bisnis yang menghasilkan produk akhir.

2. Membuka Kedai dengan Konsep Pemandangan Gunung

Peluang berikutnya adalah bisnis kuliner.

Tetapi jangan sekadar membuka warung makan biasa.

Ciptakan alasan bagi wisatawan untuk datang.

Misalnya, kedai kecil dengan pemandangan gunung, kebun, sawah bertingkat, atau kawasan pedesaan.

Menu yang ditawarkan tidak harus mahal.

Kopi lokal, teh rempah, pisang goreng, singkong, nasi tradisional, mie, makanan khas daerah, dan camilan sederhana dapat menjadi menu utama.

Yang membuatnya berbeda adalah pengalaman.

Orang datang bukan hanya untuk makan.

Mereka datang untuk menikmati suasana.

Konsep ini semakin menarik ketika dikombinasikan dengan cerita mengenai bahan makanan yang digunakan.

Kopi berasal dari petani lokal.

Sayuran berasal dari kebun sekitar.

Rempah dibeli dari warga desa.

Makanan dibuat dengan resep keluarga.

Dengan begitu, kedai bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga menjadi etalase ekonomi masyarakat.

3. Bisnis Oleh-Oleh Khas Pegunungan

Wisatawan hampir selalu membutuhkan sesuatu untuk dibawa pulang.

Inilah peluang yang sering kali sangat menarik bagi UMKM.

Produk oleh-oleh tidak harus berupa makanan.

Bisa berupa:

  • kopi;
  • teh;
  • keripik;
  • sambal;
  • makanan tradisional;
  • madu;
  • rempah;
  • buah olahan;
  • kerajinan;
  • kaus;
  • tote bag;
  • gantungan kunci;
  • mug;
  • produk aromaterapi;
  • paket hampers lokal.

Kuncinya adalah membuat produk mudah dibawa, memiliki kemasan menarik, dan mempunyai identitas daerah.

Jangan sampai wisatawan membeli produk tetapi setelah sampai di rumah mereka tidak tahu produk tersebut berasal dari mana.

Tuliskan cerita singkat di kemasan.

Ceritakan daerah asal.

Ceritakan bahan utama.

Ceritakan siapa yang membuatnya.

Cerita sederhana seperti ini dapat membuat produk terasa lebih personal.

4. Mengubah Kebun Menjadi Destinasi Wisata

Kalau memiliki kebun, jangan buru-buru berpikir bahwa hasil ekonominya hanya berasal dari panen.

Kebun juga bisa menjadi tempat wisata.

Konsep agrowisata dapat mempertemukan aktivitas pertanian dengan pengalaman pengunjung. Pengunjung dapat melihat proses menanam, memanen, mengolah hasil pertanian, kemudian membeli produk yang dihasilkan.

Model seperti ini membuat konsumen datang langsung ke sumber produk.

Misalnya kebun kopi.

Pengunjung dapat mengikuti perjalanan dari tanaman kopi, memetik buah, belajar proses pengolahan, mencoba menyangrai, kemudian menikmati secangkir kopi.

Produk akhirnya bisa dijual sebagai oleh-oleh.

Satu aktivitas menghasilkan beberapa sumber pendapatan.

Itulah yang membuat model bisnis berbasis pengalaman menjadi menarik.

5. Membuka Homestay untuk Wisatawan

Tidak semua wisatawan membutuhkan hotel mewah.

Sebagian justru mencari pengalaman tinggal bersama masyarakat lokal.

Rumah warga yang memenuhi standar kebersihan, keamanan dan kenyamanan dapat dikembangkan menjadi homestay.

Pemilik rumah memperoleh pemasukan dari kamar.

Tetapi peluangnya bisa dikembangkan lebih jauh.

Tamu dapat ditawari sarapan.

Bisa mengikuti tur desa.

Bisa diajak mengunjungi kebun.

Bisa mengikuti aktivitas memasak makanan tradisional.

Bisa membeli produk UMKM.

Dengan demikian, satu wisatawan dapat memberikan dampak ekonomi kepada beberapa pelaku usaha sekaligus.

Konsep seperti ini juga sejalan dengan pendekatan pariwisata berbasis masyarakat yang berusaha melibatkan warga lokal dalam aktivitas ekonomi destinasi. Pengembangan destinasi berbasis masyarakat dan kolaborasi dengan UMKM juga terlihat dalam berbagai agenda geowisata di Indonesia.

6. Menjadi Pemandu Wisata Lokal

Tidak semua peluang membutuhkan modal besar.

Kemampuan menjelaskan daerah sendiri bisa menjadi modal.

Pemuda desa yang memahami jalur wisata, sejarah daerah, budaya lokal, perkebunan, kuliner, dan karakter lingkungan dapat mengembangkan jasa pemandu.

Misalnya menawarkan paket:

“Menjelajahi Desa di Kaki Gunung.”

Wisatawan diajak berjalan kaki melewati perkebunan, melihat aktivitas masyarakat, mencicipi makanan lokal, kemudian menikmati pemandangan.

Namun, bisnis seperti ini harus mengutamakan keselamatan.

Pemandu tidak boleh membawa wisatawan memasuki kawasan berbahaya hanya demi mendapatkan pengalaman yang dianggap ekstrem.

Informasi mengenai status gunung, zona rawan, larangan aktivitas, dan arahan petugas harus selalu menjadi prioritas.

7. Mengembangkan Bisnis Kuliner yang Mengangkat Identitas Lokal

Kuliner merupakan salah satu sektor yang relatif mudah dikombinasikan dengan pariwisata.

Daripada menjual makanan yang sama dengan kota lain, manfaatkan resep dan bahan lokal.

Misalnya membuat:

  • nasi khas pegunungan;
  • sambal khas desa;
  • wedang rempah;
  • kopi lokal;
  • olahan singkong;
  • makanan berbahan sayuran lokal;
  • camilan tradisional;
  • kue khas daerah.

Tidak harus membuat menu yang terlalu rumit.

Justru makanan sederhana bisa menjadi menarik jika mempunyai cerita.

Wisatawan biasanya ingin merasakan sesuatu yang tidak mereka temukan setiap hari.

8. Membuat Produk Digital tentang Desa dan Wisata Gunung

UMKM di daerah pegunungan tidak harus semuanya menjual barang.

Jasa digital juga bisa menjadi peluang.

Anak muda di desa dapat menjadi pembuat konten wisata.

Mereka dapat membuat video tentang:

  • pemandangan gunung;
  • kehidupan petani;
  • proses panen;
  • kuliner lokal;
  • aktivitas desa;
  • cerita UMKM;
  • tradisi masyarakat;
  • rekomendasi wisata.

Konten tersebut dapat membantu mempromosikan bisnis lokal.

Bahkan satu akun media sosial dapat menjadi semacam etalase digital bagi banyak UMKM.

Hal ini penting karena konsumen saat ini semakin sering menemukan produk melalui internet sebelum melakukan pembelian. WarungTerkini.id juga menyoroti bahwa media sosial memungkinkan usaha kecil memperkenalkan produk tanpa harus memiliki toko besar.

9. Membuat Paket Wisata yang Menggabungkan Banyak UMKM

Salah satu kelemahan UMKM di daerah adalah berjalan sendiri-sendiri.

Pemilik homestay bekerja sendiri.

Petani menjual produk sendiri.

Warung berjalan sendiri.

Pemandu wisata mencari pelanggan sendiri.

Padahal semuanya bisa digabungkan.

Contohnya:

Paket Sehari di Kaki Gunung

Isi paket:

  • sarapan makanan lokal;
  • perjalanan menuju kebun;
  • pengalaman memanen;
  • makan siang;
  • kunjungan UMKM;
  • menikmati kopi;
  • membeli oleh-oleh;
  • kembali ke homestay.

Wisatawan mendapatkan pengalaman lengkap.

Pelaku UMKM juga mendapatkan pelanggan dari satu ekosistem.

Model kolaborasi seperti ini jauh lebih kuat daripada setiap usaha berpromosi sendirian.

10. Jangan Lupakan Risiko Erupsi

Berbisnis di kawasan gunung berapi membutuhkan strategi yang berbeda.

Pelaku UMKM harus memahami bahwa aktivitas gunung dapat berubah.

Ketika terjadi erupsi atau peningkatan risiko, bisnis mungkin harus berhenti sementara.

Karena itu, pengusaha perlu mempunyai rencana cadangan.

Misalnya, produk makanan dapat dipasarkan secara online.

Produk pertanian dapat dikirim ke kota.

Produk oleh-oleh dapat dijual melalui marketplace.

Konten digital tetap dapat diproduksi dari lokasi aman.

Dengan cara tersebut, bisnis tidak sepenuhnya bergantung pada wisatawan yang datang langsung.

Pelaku usaha juga harus mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas gunung dan mematuhi arahan keselamatan dari pihak berwenang.

Jangan pernah mempertaruhkan keselamatan demi konten, pelanggan atau omzet.

11. Manfaatkan Digital Marketing untuk Memperluas Pasar

Kawasan pegunungan tidak boleh dianggap sebagai hambatan untuk menjangkau konsumen.

Justru internet memungkinkan produk lokal keluar dari daerah asalnya.

Misalnya kopi dari desa di kaki gunung.

Dahulu pembelinya mungkin hanya warga sekitar dan wisatawan.

Sekarang produk tersebut dapat diperkenalkan melalui marketplace dan media sosial kepada konsumen di berbagai kota.

Gunakan konten yang memperlihatkan proses.

Jangan hanya menampilkan foto produk.

Perlihatkan kebun.

Perlihatkan petani.

Perlihatkan proses produksi.

Perlihatkan pengemasan.

Ceritakan asal-usul produk.

Konten seperti itu memberikan alasan kepada konsumen untuk memilih produk tersebut dibandingkan produk generik.

12. Kemasan Bisa Menjadi Senjata UMKM

Produk lokal sering kali mempunyai kualitas bagus tetapi kalah dalam hal kemasan.

Padahal kemasan merupakan bagian dari pengalaman pelanggan.

Produk dari kawasan gunung berapi bisa menggunakan identitas visual yang terinspirasi dari alam.

Gunung.

Kabut.

Kebun.

Tanah.

Hutan.

Desa.

Namun jangan berlebihan.

Kemasan tetap harus mudah dibaca, mencantumkan informasi produk, tanggal kedaluwarsa jika relevan, berat bersih, kontak usaha, dan informasi lain yang diperlukan.

Kemasan yang bagus membuat produk lebih mudah masuk ke pasar oleh-oleh dan marketplace.

13. Fokus pada Produk yang Punya Cerita

Inilah salah satu kunci penting.

Jangan menjual:

“Kopi bubuk 100 gram.”

Cobalah membangun identitas:

“Kopi dari lereng gunung yang diproses oleh petani lokal.”

Tentu saja semua klaim harus sesuai kenyataan.

Tetapi ketika asal-usul produk benar-benar menarik, ceritakan.

Konsumen modern tidak selalu mencari harga termurah.

Sebagian ingin mengetahui siapa yang membuat produk, dari mana bahan berasal, dan bagaimana produk tersebut diproduksi.

Cerita dapat membuat barang biasa memiliki nilai emosional.

UMKM Pegunungan Bisa Menjadi Kekuatan Ekonomi Desa

Pada akhirnya, peluang UMKM di daerah pegunungan berapi sebenarnya sangat luas.

Ada pertanian.

Ada kuliner.

Ada kopi.

Ada oleh-oleh.

Ada wisata.

Ada homestay.

Ada jasa pemandu.

Ada kerajinan.

Ada ekonomi kreatif.

Ada bisnis digital.

Masalahnya bukan selalu kekurangan potensi.

Sering kali tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Petani tidak harus selalu menjual hasil panen mentah.

Pemilik rumah tidak harus hanya menjadi warga biasa ketika wisatawan datang.

Anak muda tidak harus meninggalkan desa untuk mendapatkan peluang ekonomi.

Selama infrastruktur, keamanan, akses pasar dan kemampuan bisnis terus diperbaiki, kawasan pegunungan dapat mempunyai ekosistem UMKM yang menarik.

Kesimpulan

UMKM di daerah pegunungan berapi mempunyai karakter yang sangat unik.

Kawasan tersebut memiliki sumber daya alam, hasil pertanian, budaya, kuliner, panorama dan pengalaman lokal yang dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis bisnis.

Peluangnya tidak hanya berupa warung makan atau toko oleh-oleh.

Pelaku usaha dapat mengembangkan produk pertanian olahan, kopi, agrowisata, homestay, jasa pemandu, kuliner lokal, kerajinan, paket wisata, hingga pemasaran digital.

Kuncinya adalah tidak menjual produk semata.

Jual pengalaman.

Jual cerita.

Jual identitas daerah.

Dan yang paling penting, bangun bisnis secara kolaboratif dengan masyarakat sekitar.

Gunung berapi memang memiliki potensi risiko yang tidak boleh diremehkan. Tetapi dengan perencanaan yang matang, kepatuhan terhadap aturan keselamatan dan kreativitas dalam mengolah potensi lokal, masyarakat di sekitarnya dapat membangun UMKM yang bukan hanya bertahan, tetapi juga memiliki karakter kuat.

Sebab, di tengah persaingan bisnis yang semakin ramai, produk yang mempunyai cerita tentang tempat asalnya sering kali memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh pesaing hanya dengan modal besar: identitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *