
Di tengah gempuran makanan modern dan tren kuliner kekinian, jajanan tradisional atau yang kerap disebut jajan jadul ternyata masih mampu bertahan bahkan semakin digemari. Bukan hanya karena harganya yang terjangkau, tetapi juga karena nilai nostalgia dan cita rasa khas yang sulit digantikan. Menariknya, generasi muda seperti Gen Z kini mulai melirik kembali jajanan masa kecil orang tua mereka, menjadikannya tren baru yang berbaur antara modernitas dan tradisi.
Fenomena ini terlihat dari maraknya konten media sosial yang membahas jajanan lawas, mulai dari review kue pasar, camilan SD era 90-an, hingga kreasi ulang jajanan tradisional dengan sentuhan modern. Tidak heran, jajan jadul kini kembali naik pamor, masuk ke kafe kekinian, bazar kuliner, hingga toko online.
Berikut ini beberapa jajanan jadul yang masih eksis hingga saat ini dan patut dikenal oleh Gen Z.
1. Kue Cubir dan Kue Cubit
Siapa yang tidak kenal jajanan ini? Kue cubit adalah kue mini berbahan dasar adonan tepung terigu, telur, dan gula, yang dimasak di cetakan besi. Dulu, kue cubit sederhana dengan topping meses atau gula bubuk sudah cukup membuat anak-anak bahagia.
Kini, kue cubit hadir dalam varian kekinian: topping matcha, red velvet, bahkan keju premium. Namun, aroma hangat kue cubit klasik tetap tak tergantikan. Bagi Gen Z, jajan ini jadi simbol perpaduan nostalgia dengan inovasi rasa.
2. Es Goyang
Dulu, penjual es goyang kerap berkeliling kampung dengan gerobak sederhana, mengocok cetakan es dengan tangan agar adonan membeku. Es goyang biasanya dilapisi cokelat tipis dan ditaburi kacang.
Meski terlihat sederhana, sensasi segar es dengan rasa manis ringan membuatnya masih dicari hingga kini. Beberapa festival kuliner bahkan menghadirkan kembali es goyang, membuktikan bahwa jajanan ini masih punya penggemar setia lintas generasi.
3. Permen Karet Yosan
Generasi 90-an pasti ingat permen karet Yosan dengan huruf-huruf pada bungkusnya yang konon bisa ditukar hadiah. Walau kini sudah jarang ditemui, permen ini masih jadi legenda jajanan jadul.
Bagi Gen Z, Yosan menjadi cerita menarik tentang bagaimana jajanan murah bisa membawa kebahagiaan sederhana. Beberapa toko online bahkan menjual kembali permen ini dalam kemasan nostalgia, khusus untuk kolektor dan penggemar berat.
4. Kerupuk Rambak dan Mie Lidi
Camilan gurih juga tak kalah populer. Kerupuk rambak dari kulit sapi atau ikan punya cita rasa renyah yang khas, sementara mie lidi identik dengan rasa asin pedas dan bentuknya menyerupai stik panjang.
Jajanan ini masih banyak ditemui di warung tradisional maupun toko camilan modern dengan kemasan lebih menarik. Bahkan, banyak brand lokal kini memproduksi mie lidi dengan varian rasa seperti jagung manis, balado, dan barbeque untuk menarik konsumen muda.
5. Kue Lapis dan Kue Lumpur
Dari sekian banyak kue pasar, kue lapis dan kue lumpur adalah yang paling bertahan hingga kini. Kue lapis dengan warna-warni khasnya sering memancing rasa ingin tahu anak-anak, sementara kue lumpur lembut dengan taburan kismis di atasnya selalu jadi favorit saat acara keluarga.
Generasi Z bisa menemukan kue-kue ini di pasar tradisional, tetapi tak jarang juga dihadirkan di kafe modern dengan tampilan lebih elegan tanpa menghilangkan cita rasa klasiknya.
6. Roti Bakar dan Pisang Cokelat
Meski terkesan sederhana, roti bakar dan pisang cokelat (piscok) sudah lama jadi jajanan rakyat. Roti bakar dengan selai cokelat atau kacang menjadi camilan malam favorit, sementara piscok goreng dengan lelehan cokelat di dalamnya masih menjadi pilihan utama di warung pinggir jalan.
Tren saat ini bahkan menghadirkan piscok dengan varian lumer keju, matcha, hingga tiramisu, yang semakin memperluas target konsumen dari kalangan muda.
7. Kacang Atom dan Chiki Lawas
Jajanan dalam kemasan kecil seperti kacang atom, Taro, Chiki Balls, atau bahkan Permen Sugus adalah bagian dari memori manis masa lalu. Gen Z kini banyak menemukannya kembali lewat toko online atau minimarket yang sengaja memajang produk nostalgia.
Tak hanya soal rasa, tetapi juga kemasan klasik yang mengingatkan orang pada masa kecil membuat jajanan ini kembali laris di pasaran.
Mengapa Jajan Jadul Masih Hits?
Ada beberapa alasan mengapa jajanan tradisional atau jadul tetap digemari meski dunia kuliner terus berkembang:
- Faktor Nostalgia
Banyak orang dewasa mengenang masa kecil mereka lewat jajanan sederhana. Nilai emosional ini menjadi daya tarik yang tak bisa ditandingi produk modern. - Harga Terjangkau
Dibandingkan camilan modern, jajanan jadul umumnya lebih murah sehingga bisa dinikmati berbagai kalangan. - Cita Rasa Khas
Resep tradisional yang sederhana justru memberikan rasa autentik yang sulit ditiru. - Adaptasi ke Tren Modern
Banyak produsen kini mengemas ulang jajanan jadul dengan varian rasa baru dan tampilan lebih menarik agar sesuai selera generasi muda.
Fenomena di Media Sosial
Menariknya, jajanan jadul kini juga mendapat panggung di platform seperti TikTok dan Instagram. Banyak kreator konten kuliner yang membuat review, ASMR makan jajanan SD, hingga membagikan tips membuat jajanan tradisional sendiri di rumah.
Hal ini membuat jajanan jadul tak hanya jadi camilan, tetapi juga bagian dari budaya populer yang mendekatkan generasi tua dan muda.
Kesimpulan
Kembalinya popularitas jajanan jadul di kalangan Gen Z membuktikan bahwa warisan kuliner sederhana tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Mulai dari kue cubit, es goyang, mie lidi, hingga kacang atom, semua jajanan itu bukan sekadar makanan, tetapi juga cerita masa lalu yang hidup kembali.
Bagi generasi muda, mengenal jajan jadul bukan hanya soal mencoba rasa, tetapi juga menghargai perjalanan kuliner Indonesia. Dengan semakin banyaknya inovasi dan dukungan media sosial, jajan jadul diprediksi akan terus eksis, bahkan menjadi tren kuliner lintas zaman.
