Membangun usaha sendiri semakin menarik bagi generasi muda. Bagi Gen Z, memulai UMKM tidak selalu berarti harus memiliki toko besar, gudang luas, atau modal puluhan juta rupiah. Perkembangan media sosial, marketplace, pembayaran digital, dan berbagai tools berbasis teknologi membuat pintu masuk ke dunia bisnis menjadi lebih beragam.
Yang menarik, Gen Z tidak hanya berperan sebagai konsumen dalam ekosistem digital. Mereka juga mulai mengambil posisi sebagai kreator, penjual, pengelola brand, freelancer, dan wirausaha.
Bank Indonesia dalam Karya Kreatif Indonesia 2026 menyebut generasi muda memiliki potensi besar sebagai penggerak inovasi, kewirausahaan, dan regenerasi UMKM. Data BPS 2025 yang dikutip Bank Indonesia menunjukkan Gen Z dan Milenial mencapai 49,27 persen dari populasi Indonesia, sementara kedua kelompok tersebut mencakup 63 persen tenaga kerja.
Kondisi tersebut membuat pembahasan mengenai UMKM untuk Gen Z semakin menarik. Namun, bisnis anak muda tidak cukup hanya mengikuti sesuatu yang sedang viral. Ada persoalan produk, target konsumen, modal, pemasaran, pelayanan, hingga kemampuan mempertahankan usaha ketika tren sudah berubah.
Lantas, bisnis seperti apa yang dapat dikembangkan Gen Z? Dan bagaimana cara memulainya tanpa langsung terbebani biaya besar?
Gen Z Punya Modal yang Tidak Selalu Berbentuk Uang
Ketika membicarakan modal usaha, orang biasanya langsung memikirkan uang. Padahal, dalam bisnis modern, modal bisa berbentuk kemampuan, jaringan, kreativitas, perangkat teknologi, pengalaman, hingga pengetahuan mengenai perilaku konsumen.
Gen Z yang terbiasa menggunakan media sosial memiliki pengalaman dengan berbagai format konten. Mereka juga relatif akrab dengan video pendek, marketplace, aplikasi desain, pembayaran digital, dan komunikasi melalui platform online.
Kemampuan tersebut dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha.
Misalnya, seseorang yang memiliki kemampuan membuat video dapat membuka jasa pembuatan konten untuk UMKM. Orang yang senang desain dapat menawarkan jasa pembuatan materi promosi. Sementara mereka yang memiliki kemampuan memasak bisa mengembangkan produk makanan dengan sistem pre-order.
Dengan begitu, memulai UMKM tidak harus selalu diawali dengan menyewa tempat.
1. Bisnis Makanan dengan Konsep yang Lebih Spesifik
Bisnis makanan masih menjadi salah satu pilihan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, Gen Z bisa menghindari konsep terlalu umum dengan mencari ceruk pasar tertentu.
Contohnya adalah:
- Camilan pedas dengan level tertentu
- Dessert dalam kemasan kecil
- Makanan sarapan praktis
- Frozen food rumahan
- Camilan berbahan lokal
- Minuman dengan konsep unik
- Hampers makanan untuk momen tertentu
- Makanan dengan sistem pre-order
Kuncinya bukan sekadar membuat makanan yang enak. Produk juga perlu memiliki alasan mengapa konsumen harus memilihnya dibandingkan produk lain.
Kemasan, nama produk, cerita brand, foto, serta cara menyajikan konten dapat menjadi bagian dari pengalaman konsumen.
Gen Z juga dapat memanfaatkan sistem pre-order untuk mengurangi risiko produksi berlebihan ketika baru memulai usaha.
2. Jasa Pembuatan Konten untuk UMKM
Tidak semua UMKM memiliki tim media sosial sendiri.
Di sinilah kemampuan Gen Z dalam membuat konten dapat menjadi peluang bisnis.
Jasa yang ditawarkan bisa dimulai dari layanan sederhana, seperti:
- Foto produk
- Video pendek
- Editing video
- Desain konten
- Penulisan caption
- Kalender konten
- Pengelolaan media sosial
- Dokumentasi kegiatan usaha
Modalnya relatif dapat disesuaikan dengan peralatan yang sudah dimiliki.
Bahkan, seseorang bisa memulai dengan smartphone yang tersedia, kemudian meningkatkan perangkat ketika jumlah klien bertambah.
Model bisnis seperti ini menarik karena produk yang dijual bukan barang fisik, melainkan keterampilan.
3. Thrift dan Fashion Kurasi
Bisnis fashion juga bisa dikembangkan dengan pendekatan yang lebih spesifik.
Daripada hanya menjual pakaian dalam jumlah besar, pelaku usaha dapat membangun konsep kurasi. Misalnya, fokus pada gaya tertentu, ukuran tertentu, pakaian vintage, atau outfit dengan tema tertentu.
Media sosial kemudian digunakan untuk memperkenalkan produk.
Konsep live selling juga dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran. Namun, pelaku usaha tetap perlu memperhatikan kondisi barang, ukuran, harga, kualitas bahan, dan transparansi informasi agar konsumen tidak merasa tertipu.
Brand fashion kecil juga dapat dimulai dari jumlah stok terbatas.
Ketika produk tertentu mendapat respons baik, stok dapat ditambah secara bertahap.
4. Custom Merchandise
Gen Z juga dapat mencoba bisnis produk custom.
Contohnya:
- Stiker
- Tote bag
- Gantungan kunci
- Mug
- Kaos
- Poster
- Notebook
- Aksesori
- Produk hadiah personal
Keunggulan bisnis custom adalah konsumen dapat mencari produk yang lebih personal.
Misalnya, seseorang ingin memberikan hadiah ulang tahun kepada temannya. Produk yang memiliki nama, foto, ilustrasi, atau pesan tertentu bisa memiliki nilai emosional yang berbeda dibandingkan barang generik.
Pelaku usaha tidak harus langsung memiliki semua mesin produksi. Pada tahap awal, sebagian proses dapat bekerja sama dengan vendor atau percetakan yang sudah tersedia.
5. Jasa Admin Media Sosial
Tidak semua pemilik usaha memiliki waktu untuk membalas pesan, mengunggah konten, membuat caption, dan memantau komentar.
Gen Z yang terbiasa menggunakan media sosial dapat menawarkan jasa admin.
Tugasnya dapat mencakup:
- Menjadwalkan posting
- Membalas pertanyaan konsumen
- Mengelola komentar
- Membuat caption
- Mengunggah katalog
- Membantu pencatatan pesanan
- Membuat laporan sederhana
Model usaha ini bisa dimulai dengan satu atau dua klien.
Setelah sistem kerja terbentuk, jumlah klien dapat ditambah sesuai kemampuan.
Yang penting, sejak awal pelaku usaha perlu membuat batasan pekerjaan yang jelas. Jangan sampai semua pekerjaan digital dianggap termasuk dalam satu paket tanpa perhitungan waktu dan biaya.
6. Produk Digital untuk Pasar Niche
Produk digital menjadi salah satu pilihan yang tidak membutuhkan pengiriman fisik.
Gen Z yang memiliki keahlian tertentu dapat mengemas pengetahuan tersebut menjadi produk digital.
Misalnya:
- Template desain
- Template CV
- Kalender konten
- E-book praktis
- Preset foto
- Template presentasi
- Worksheet
- Planner digital
- Template pencatatan keuangan
Produk digital memang terlihat sederhana, tetapi tetap membutuhkan kualitas dan pemahaman mengenai kebutuhan konsumen.
Jangan membuat produk hanya karena sedang viral. Cari masalah yang benar-benar ingin diselesaikan oleh calon pembeli.
7. Jasa Editing Video untuk Kreator
Pertumbuhan konten video membuat kebutuhan terhadap editor juga semakin luas.
Seorang Gen Z yang memiliki kemampuan editing dapat menawarkan jasa kepada kreator, UMKM, komunitas, hingga pemilik bisnis.
Paket layanan dapat dibedakan berdasarkan jumlah video.
Misalnya, pelanggan membeli paket lima, sepuluh, atau dua puluh video dalam satu periode.
Dengan sistem tersebut, pendapatan usaha menjadi lebih mudah diproyeksikan dibandingkan hanya mengandalkan pesanan satuan.
Portofolio menjadi hal penting. Sebelum mencari klien, buat beberapa contoh hasil editing agar calon pelanggan dapat melihat kemampuan yang ditawarkan.
8. Coba Model Reseller atau Pre-Order
Tidak semua orang siap membuat produk sendiri.
Reseller dan pre-order dapat menjadi alternatif untuk menguji pasar.
Sistem ini memungkinkan calon pengusaha mempelajari:
- Produk apa yang dicari konsumen
- Rentang harga yang diterima
- Cara membuat promosi
- Pertanyaan yang sering diajukan pembeli
- Produk mana yang memiliki permintaan lebih tinggi
Namun, tetap penting memperhitungkan margin keuntungan.
Jangan sampai penjualan terlihat ramai tetapi keuntungan sebenarnya sangat kecil karena biaya promosi, kemasan, ongkos operasional, dan potongan platform tidak dihitung.
9. Manfaatkan Pembayaran Digital Sejak Awal
Digitalisasi bukan hanya soal membuat konten di media sosial.
Pembayaran juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan bisnis.
Bank Indonesia melaporkan bahwa hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant. Dari jumlah merchant tersebut, 96,68 persen merupakan UMKM.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital telah menjadi bagian penting dari ekosistem UMKM.
Bagi pengusaha muda, pembayaran digital juga dapat membantu membuat transaksi lebih praktis. Namun, pencatatan pemasukan dan pengeluaran tetap perlu dilakukan secara terpisah dan disiplin.
Jangan mencampurkan uang bisnis dengan uang pribadi sejak hari pertama.
10. Jangan Menganggap Media Sosial sebagai Tempat Jualan Saja
Kesalahan yang sering dilakukan bisnis baru adalah menganggap media sosial hanya sebagai katalog.
Padahal, konten dapat digunakan untuk membangun hubungan dengan calon pelanggan.
Contohnya, bisnis makanan tidak harus setiap hari mengunggah foto produk dengan tulisan “beli sekarang”.
Bisa juga membuat konten:
- Proses produksi
- Cerita di balik brand
- Tips menggunakan produk
- Kesalahan umum konsumen
- Perbandingan bahan
- Cerita pelanggan
- Behind the scenes
- Proses pengemasan
Konten semacam itu membuat akun bisnis terasa lebih hidup.
Bank Indonesia juga menekankan pentingnya digitalisasi UMKM untuk memperluas pasar dan meningkatkan produktivitas. Strategi yang didorong antara lain onboarding UMKM ke e-commerce serta penguatan pencatatan keuangan digital.
11. Cari Masalah Sebelum Mencari Produk
Salah satu cara sederhana untuk menemukan ide bisnis adalah melihat masalah di sekitar.
Perhatikan hal-hal yang sering dikeluhkan teman, keluarga, komunitas, atau calon konsumen.
Misalnya:
“Sulit mencari makanan sarapan yang praktis.”
“Tidak sempat membuat konten untuk bisnis.”
“Bingung membuat CV yang menarik.”
“Sulit menemukan hadiah personal dengan harga terjangkau.”
Dari masalah tersebut, barulah muncul kemungkinan produk atau jasa.
Pendekatan ini berbeda dengan sekadar mengikuti tren.
Tren dapat memberikan perhatian dalam waktu singkat, sedangkan solusi terhadap masalah konsumen dapat menjadi dasar untuk membangun bisnis yang lebih berkelanjutan.
12. Hitung Modal Sebelum Mengikuti Tren
Tren memang bisa menjadi peluang.
Namun, jangan langsung membeli stok dalam jumlah besar hanya karena sebuah produk sedang ramai di media sosial.
Buat perhitungan sederhana terlebih dahulu.
Misalnya:
Modal awal: Rp1.000.000
Biaya bahan atau stok: Rp500.000
Kemasan: Rp150.000
Promosi: Rp100.000
Operasional lain: Rp100.000
Cadangan: Rp150.000
Pembagian tersebut hanya contoh. Angka sebenarnya harus disesuaikan dengan model bisnis.
Tujuannya adalah membuat pengusaha mengetahui ke mana uang dikeluarkan.
13. Pisahkan Uang Pribadi dan Uang Usaha
Ini merupakan kebiasaan yang sering dianggap sepele.
Ketika bisnis masih kecil, pemilik usaha mungkin merasa tidak masalah mengambil uang dari kas untuk membeli kebutuhan pribadi.
Jika terus dilakukan, pengusaha akan kesulitan mengetahui apakah bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan.
Buat rekening atau dompet digital terpisah untuk usaha apabila memungkinkan.
Catat semua pemasukan dan pengeluaran.
Bank Indonesia juga mendorong penguatan pencatatan keuangan UMKM melalui digitalisasi, termasuk penggunaan SIAPIK sebagai salah satu instrumen pencatatan.
Dengan pencatatan yang lebih rapi, keputusan bisnis dapat dibuat berdasarkan data, bukan sekadar perasaan.
14. Bangun Brand, Bukan Sekadar Nama Toko
Nama usaha memang penting, tetapi brand jauh lebih luas.
Brand mencakup bagaimana konsumen mengenali usaha tersebut.
Mulai dari nama, logo, warna visual, kemasan, gaya komunikasi, hingga cara melayani pelanggan.
Gen Z yang membangun UMKM dapat menggunakan kekuatan storytelling.
Ceritakan mengapa bisnis tersebut dibuat.
Jika menjual makanan lokal, ceritakan asal-usul produknya.
Jika menjual kerajinan, ceritakan proses pembuatannya.
Jika menawarkan jasa, tampilkan proses kerja dan hasilnya.
Bank Indonesia dalam KKI 2026 juga menyoroti inovasi merek lokal oleh generasi muda sebagai bagian dari penguatan UMKM.
15. Tidak Harus Langsung Besar
Salah satu jebakan bisnis anak muda adalah merasa harus terlihat besar sejak awal.
Padahal, bisnis yang sehat dapat berkembang secara bertahap.
Mulai dari satu produk.
Cari sepuluh pelanggan pertama.
Dengarkan kritik.
Perbaiki produk.
Catat angka penjualan.
Uji harga.
Kemudian ulangi proses tersebut.
Jika produk mulai memiliki pelanggan tetap, barulah pertimbangkan menambah varian, memperluas promosi, atau meningkatkan kapasitas produksi.
Model bertahap seperti ini dapat membantu mengurangi risiko mengeluarkan modal terlalu besar sebelum mengetahui respons pasar.
UMKM Gen Z Tidak Harus Selalu “Kekinian”
Ada satu hal penting yang perlu dipahami.
Menjadi bisnis Gen Z tidak berarti semua produknya harus mengikuti tren terbaru.
Usaha yang terlihat sederhana tetap bisa memiliki pasar jika mampu memberikan nilai.
Produk lokal, makanan tradisional, kerajinan, jasa profesional, pertanian, fashion, hingga produk digital semuanya dapat dikembangkan oleh anak muda.
Bank Indonesia melalui KKI 2026 bahkan menampilkan berbagai kategori UMKM, mulai dari wastra, ready-to-wear, aksesori, home decor, makanan dan minuman, hingga produk kreatif generasi muda.
Yang membuat sebuah bisnis relevan bukan semata-mata karena menggunakan istilah kekinian, tetapi karena mampu memahami konsumen dan memberikan produk atau layanan yang dibutuhkan.
Kesimpulan
Membangun UMKM untuk Gen Z dapat dimulai dari berbagai arah. Tidak harus langsung memiliki toko fisik atau modal besar.
Kemampuan membuat konten, editing video, desain, memasak, menjual produk, mengelola media sosial, membuat kerajinan, atau memahami teknologi dapat diubah menjadi peluang usaha.
Yang paling penting adalah mengetahui siapa calon pelanggan, masalah apa yang ingin diselesaikan, berapa biaya yang dibutuhkan, serta bagaimana bisnis tersebut menghasilkan keuntungan.
Teknologi juga dapat menjadi alat pendukung. Media sosial dapat digunakan untuk pemasaran, marketplace untuk memperluas akses pasar, pembayaran digital untuk mempermudah transaksi, dan pencatatan digital untuk membantu pengelolaan keuangan.
Data Bank Indonesia pada 2026 menunjukkan besarnya ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam regenerasi UMKM dan ekonomi kreatif.
Namun, menjadi pengusaha bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren.
Lebih penting untuk memulai dari kemampuan yang dimiliki, memahami kebutuhan pasar, menghitung risiko, menjaga kualitas, dan terus belajar dari pelanggan.
Bagi Gen Z yang ingin mencoba dunia usaha, langkah pertama tidak harus sempurna. Bisa dimulai dari satu produk, satu jasa, satu akun bisnis, dan beberapa pelanggan pertama.
Dari sana, bisnis dapat diuji, diperbaiki, dan dikembangkan sesuai data serta pengalaman di lapangan.
