Gunung meletus merupakan bencana alam yang dapat mengubah kehidupan masyarakat dalam waktu singkat. Selain menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan, erupsi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi warga.
Toko bisa tutup sementara, pasar tidak seramai biasanya, distribusi barang terhambat, sementara sebagian masyarakat harus berpindah ke lokasi yang lebih aman. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM.
Namun, setelah kondisi mulai aman dan aktivitas masyarakat berangsur pulih, muncul kebutuhan baru yang justru dapat menjadi peluang usaha.
Masyarakat membutuhkan makanan, minuman, perlengkapan kebersihan, kebutuhan rumah tangga, jasa pengantaran, hingga berbagai layanan sederhana yang membantu mereka menjalani kehidupan setelah bencana.
Di sinilah konsep UMKM pasca gunung meletus menjadi menarik untuk dibahas.
UMKM tidak harus langsung kembali dengan skala seperti sebelum bencana. Pemulihan dapat dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi modal, kebutuhan masyarakat, ketersediaan bahan baku, dan tingkat keamanan wilayah.
BNPB sendiri menekankan bahwa pemulihan ekonomi menjadi bagian penting agar masyarakat terdampak bencana tidak hanya mampu bertahan, tetapi kembali berdaya dan mandiri.
Lantas, usaha seperti apa yang cocok dikembangkan setelah kondisi pascaerupsi mulai memungkinkan?
1. Usaha Sembako Bisa Menjadi Pilihan Utama
Kebutuhan pangan merupakan sesuatu yang terus dicari masyarakat dalam berbagai kondisi.
Beras, minyak goreng, gula, telur, air minum, mi instan, makanan ringan, sabun, deterjen, tisu, dan berbagai kebutuhan rumah tangga tetap dibutuhkan meskipun kondisi daerah baru saja mengalami bencana.
Karena itu, membuka kembali usaha sembako dapat menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat yang sebelumnya memang sudah memiliki toko kelontong.
Tidak perlu langsung menyediakan stok dalam jumlah besar.
Pelaku usaha dapat memulai dari barang yang paling banyak dicari masyarakat kemudian menambah jenis produk secara perlahan berdasarkan pola permintaan.
Strategi tersebut membantu mengurangi risiko modal tertahan pada barang yang perputarannya lambat.
2. Warung Makan dengan Menu Sederhana
Pascaerupsi, tidak semua masyarakat mempunyai kesempatan untuk memasak seperti biasanya.
Sebagian warga mungkin tinggal sementara di tempat lain. Sebagian lainnya sibuk membersihkan rumah atau lingkungan. Dalam kondisi seperti itu, makanan siap santap dapat menjadi kebutuhan yang cukup penting.
Warung makan tidak harus menawarkan menu mahal.
Nasi, telur, ayam, sayur, gorengan, mi, bubur, atau menu rumahan sederhana bisa menjadi pilihan selama bahan bakunya aman dan proses pengolahannya memperhatikan kebersihan.
Konsep warung sederhana juga dapat dikombinasikan dengan sistem pesan antar di sekitar wilayah yang sudah dinyatakan aman.
3. Bisnis Air Minum dan Kebutuhan Kebersihan
Setelah bencana, kebutuhan terhadap produk kebersihan bisa meningkat.
Sabun, masker, tisu, cairan pembersih, sarung tangan, kantong sampah, alat kebersihan rumah, dan air minum merupakan beberapa produk yang berpotensi dibutuhkan masyarakat.
Namun, pelaku UMKM perlu memperhatikan aturan distribusi dan tidak mengambil keuntungan secara tidak wajar hanya karena produk sedang banyak dicari.
Dalam kondisi pascabencana, reputasi usaha justru sangat penting.
Pedagang yang dianggap membantu masyarakat akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang.
4. Jasa Bersih-Bersih Rumah
Tidak semua peluang UMKM pasca gunung meletus berbentuk penjualan barang.
Jasa juga bisa menjadi peluang menarik.
Setelah abu vulkanik atau material erupsi mengenai permukiman, masyarakat membutuhkan bantuan membersihkan rumah, halaman, kendaraan, tempat usaha, hingga fasilitas tertentu.
Pelaku usaha dapat menyediakan jasa pembersihan secara sederhana dengan tenaga beberapa orang dan peralatan yang sesuai.
Sistem pembayaran dapat dibuat berdasarkan luas area atau tingkat pekerjaan.
Namun, aspek keselamatan harus menjadi prioritas. Jangan menawarkan jasa di wilayah yang masih masuk zona berbahaya atau ketika kondisi belum dinyatakan aman oleh pihak berwenang.
5. Jasa Cuci Kendaraan
Kendaraan yang terkena abu vulkanik membutuhkan perhatian khusus.
Kondisi tersebut dapat menciptakan peluang bagi usaha pencucian kendaraan ketika aktivitas masyarakat mulai normal.
Bisnis cuci motor atau mobil dapat dimulai dalam skala kecil. Bahkan, seseorang yang sudah mempunyai halaman dan perlengkapan memadai dapat mengembangkan layanan tersebut secara bertahap.
Kuncinya bukan sekadar mencuci kendaraan, tetapi memahami cara membersihkan material abu dengan aman agar tidak menimbulkan masalah tambahan pada permukaan kendaraan.
6. Menjual Produk Secara Online
Kondisi pascabencana dapat membuat aktivitas jual beli secara langsung belum sepenuhnya normal.
Karena itu, kanal digital dapat menjadi alternatif.
Pelaku UMKM dapat memanfaatkan WhatsApp, media sosial, marketplace, atau platform digital lain untuk menerima pesanan.
Model ini cocok bagi usaha makanan, sembako, pakaian, produk rumah tangga, kerajinan, hingga berbagai barang kebutuhan masyarakat.
WarungTerkini.id sendiri sebelumnya telah membahas bagaimana media sosial dapat menjadi sarana penting bagi UMKM untuk memperkenalkan produk dan menjangkau konsumen lebih luas.
Artinya, setelah bencana, digitalisasi bukan sekadar strategi pemasaran, tetapi juga dapat menjadi cara agar usaha tetap memiliki akses ke pelanggan ketika mobilitas fisik belum sepenuhnya normal.
7. Layanan Antar Barang di Wilayah Lokal
Ketika masyarakat masih membatasi aktivitas di luar rumah, jasa pengantaran lokal dapat menjadi peluang.
Pelaku usaha dapat bekerja sama dengan toko sembako, warung makan, apotek, atau penjual kebutuhan rumah tangga.
Model bisnisnya sederhana: pelanggan memesan barang, kemudian barang diambil dari penjual dan diantar ke lokasi yang aman.
Keuntungan dapat berasal dari biaya pengiriman.
Namun, layanan ini harus memperhatikan akses jalan dan kondisi wilayah. Jangan memaksakan pengantaran ke kawasan yang masih berisiko terkena material erupsi atau berada dalam zona yang dilarang untuk dimasuki.
8. Usaha Makanan Siap Masak
Masyarakat pascabencana mungkin membutuhkan produk makanan yang praktis tetapi tidak selalu berupa makanan siap santap.
Produk seperti lauk siap masak, bumbu masakan, makanan beku, sambal kemasan, atau paket bahan makanan dapat dikembangkan apabila kondisi penyimpanan dan distribusinya memungkinkan.
Model ini menarik karena produknya dapat dipasarkan kepada masyarakat sekitar maupun konsumen dari luar daerah.
Pelaku usaha juga dapat membuat paket ekonomis sehingga konsumen dapat memilih sesuai kemampuan membeli.
9. Jangan Langsung Menghabiskan Modal
Salah satu kesalahan yang perlu dihindari ketika membangun kembali usaha adalah menggunakan seluruh modal sekaligus.
Pasca bencana, kondisi ekonomi masyarakat belum tentu langsung kembali seperti sebelumnya.
Daya beli dapat berubah. Jumlah pelanggan mungkin belum stabil. Harga bahan baku juga bisa mengalami perubahan.
Karena itu, lebih baik menjalankan bisnis dengan sistem bertahap.
Misalnya, dari modal Rp1 juta, jangan seluruhnya digunakan untuk membeli stok. Sisihkan sebagian sebagai dana cadangan untuk kebutuhan operasional dan kondisi tidak terduga.
Prinsipnya sederhana: bangkit perlahan, tetapi jangan sampai modal habis di tengah perjalanan.
10. Cari Produk yang Benar-Benar Dibutuhkan
Pelaku UMKM sering melakukan kesalahan dengan menjual barang yang mereka sukai, bukan barang yang sedang dibutuhkan konsumen.
Pasca gunung meletus, pendekatan tersebut sebaiknya diubah.
Amati kebutuhan masyarakat.
Apa yang sering dicari?
Produk apa yang mulai sulit diperoleh?
Barang apa yang dibutuhkan secara rutin?
Jasa apa yang membuat aktivitas warga menjadi lebih mudah?
Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar menentukan produk.
Bisnis yang berangkat dari kebutuhan nyata biasanya mempunyai peluang lebih baik untuk mendapatkan pelanggan dibandingkan usaha yang sekadar mengikuti tren.
11. Bangun Kerja Sama dengan UMKM Lain
Pemulihan ekonomi tidak harus dilakukan sendirian.
Pelaku UMKM dapat membangun kerja sama dengan pedagang lain.
Contohnya, pemilik warung makan bekerja sama dengan peternak telur, pedagang sayur, pemasok beras, jasa pengiriman, dan pembuat kemasan lokal.
Kerja sama semacam ini dapat menciptakan rantai ekonomi lokal.
Ketika satu usaha mendapatkan pesanan, usaha lain juga ikut memperoleh manfaat.
Semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan pendekatan pemulihan UMKM yang menekankan pentingnya dukungan, pendampingan, akses pembiayaan, dan pemasaran. Bank Indonesia juga menyoroti pentingnya sinergi untuk membantu UMKM bangkit dan memperluas akses pasar.
12. Manfaatkan Cerita Lokal sebagai Identitas Bisnis
UMKM pasca gunung meletus juga dapat membangun identitas melalui cerita lokal.
Misalnya, sebuah usaha makanan dapat memperkenalkan produk khas daerah dengan narasi tentang perjuangan masyarakat bangkit setelah bencana.
Kerajinan lokal juga dapat dipasarkan dengan membawa cerita mengenai daerah asal pembuatnya.
Namun, pendekatan ini harus dilakukan secara etis.
Jangan mengeksploitasi penderitaan korban hanya untuk mendapatkan perhatian.
Gunakan cerita sebagai bentuk optimisme: masyarakat sedang bangkit, usaha lokal kembali berjalan, dan konsumen dapat ikut mendukung pemulihan ekonomi dengan membeli produk dari pelaku usaha setempat.
13. Promosi Tidak Harus Mahal
Setelah usaha kembali berjalan, promosi menjadi bagian penting.
Namun, pelaku UMKM tidak harus langsung mengeluarkan biaya besar untuk iklan.
Gunakan media sosial untuk menunjukkan produk, lokasi usaha, jam operasional, cara pemesanan, serta kondisi terbaru usaha.
Foto sederhana dengan pencahayaan baik sudah cukup untuk memulai.
Pelaku usaha juga dapat membuat video pendek mengenai proses produksi atau aktivitas toko.
Tujuannya bukan sekadar mendapatkan viralitas, tetapi memberi tahu pelanggan bahwa usaha sudah kembali beroperasi.
14. Perhatikan Kondisi Keamanan Sebelum Berjualan
Ini merupakan bagian yang tidak boleh dilupakan.
Membangun kembali bisnis setelah gunung meletus memang penting, tetapi keselamatan harus tetap berada di atas kepentingan ekonomi.
Pelaku usaha harus mengetahui status wilayahnya.
Jika suatu lokasi masih masuk zona bahaya atau pemerintah meminta masyarakat menjauh, jangan memaksakan diri membuka usaha.
Bisnis dapat dibangun kembali setelah kondisi memungkinkan.
Bahkan, BNPB saat ini juga mendorong konsep business continuity plan atau rencana keberlanjutan usaha agar UMKM memiliki kesiapan menghadapi gangguan dan dapat kembali beroperasi setelah bencana.
15. Buat Rencana Bisnis yang Lebih Tahan Bencana
Pengalaman menghadapi erupsi seharusnya menjadi pelajaran bagi pelaku usaha.
Setelah usaha mulai pulih, jangan hanya kembali menjalankan pola lama.
Buat rencana sederhana:
- Simpan data pelanggan secara aman.
- Miliki pemasok alternatif.
- Jangan bergantung pada satu jalur distribusi.
- Sisihkan dana darurat usaha.
- Gunakan pemasaran digital.
- Simpan dokumen usaha di tempat yang aman.
- Buat daftar produk prioritas.
- Tentukan alternatif lokasi operasional.
- Bangun hubungan dengan komunitas UMKM.
- Pelajari informasi kebencanaan di wilayah sekitar.
Dengan begitu, UMKM tidak hanya kembali beroperasi, tetapi menjadi lebih tangguh.
16. Peluang Usaha Harus Tetap Mengutamakan Etika
Kondisi bencana bukan alasan bagi pelaku usaha untuk menaikkan harga secara berlebihan.
Memang, biaya distribusi dan harga pemasok dapat meningkat. Namun, pelaku usaha tetap perlu mempertimbangkan kemampuan masyarakat.
Bisnis yang dibangun dengan memanfaatkan kesulitan masyarakat mungkin mendapatkan keuntungan sesaat, tetapi dapat kehilangan kepercayaan dalam jangka panjang.
Sebaliknya, usaha yang memberikan harga wajar, pelayanan baik, dan membantu memenuhi kebutuhan masyarakat berpotensi memiliki pelanggan loyal setelah kondisi kembali normal.
17. Dari Pascabencana Menuju UMKM yang Lebih Kuat
Bencana memang dapat menghentikan aktivitas ekonomi untuk sementara.
Namun, pemulihan juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki cara menjalankan bisnis.
Pelaku usaha dapat mulai mengenal pemasaran digital, mengatur keuangan dengan lebih disiplin, membuat pencatatan stok, membangun database pelanggan, hingga menggunakan sistem pembayaran digital.
Jangan hanya berpikir bagaimana usaha bisa kembali seperti sebelum erupsi.
Pertanyaannya harus ditingkatkan menjadi:
Bagaimana usaha ini bisa menjadi lebih kuat setelah melewati bencana?
Inilah pola pikir yang penting dalam membangun UMKM berkelanjutan.
Kesimpulan
Membangun UMKM pasca gunung meletus bukan hanya tentang kembali berjualan. Lebih dari itu, usaha kecil dapat menjadi bagian dari proses pemulihan ekonomi masyarakat.
Sembako, warung makan, jasa kebersihan, cuci kendaraan, layanan antar, makanan siap masak, hingga bisnis digital merupakan beberapa peluang yang dapat dipertimbangkan sesuai kondisi dan kebutuhan wilayah.
Namun, tidak ada satu model usaha yang cocok untuk semua daerah. Pelaku UMKM harus melihat kebutuhan masyarakat, kemampuan modal, kondisi distribusi, tingkat keamanan, serta daya beli konsumen sebelum menentukan langkah.
Yang tidak kalah penting, pemulihan usaha membutuhkan kerja sama. Pengalaman penanganan bencana menunjukkan bahwa dukungan pembiayaan, pendampingan, akses pasar, dan kolaborasi dapat membantu masyarakat kembali membangun aktivitas ekonomi.
Pada akhirnya, gunung meletus memang dapat mengganggu kehidupan dan menghentikan aktivitas ekonomi untuk sementara. Tetapi ketika situasi sudah aman, semangat masyarakat untuk bangkit dapat menjadi kekuatan baru.
UMKM bukan hanya tentang mencari keuntungan. Dalam situasi pascabencana, UMKM juga dapat menjadi salah satu penggerak masyarakat untuk kembali mandiri, membuka lapangan penghasilan, dan membangun ekonomi lokal dari bawah.
