Membicarakan UMKM yang disukai Gen Z tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa produknya harus kekinian. Generasi yang tumbuh bersama internet ini memiliki kebiasaan menemukan produk, mencari ulasan, membandingkan harga, melihat konten, hingga melakukan pembelian melalui ekosistem digital.

Sebuah produk bisa saja terlihat menarik di etalase, tetapi belum tentu membuat calon pembeli tertarik. Sebaliknya, produk sederhana dapat menjadi menarik ketika mempunyai cerita, kemasan yang unik, bisa dipersonalisasi, atau memberikan pengalaman yang membuat orang ingin membagikannya di media sosial.

Kondisi tersebut membuka peluang menarik bagi pelaku UMKM.

Pemilik usaha tidak selalu membutuhkan modal besar untuk menciptakan produk yang dekat dengan Gen Z. Yang lebih penting adalah memahami kebiasaan konsumennya, menemukan kebutuhan yang spesifik, kemudian mengemas produk dengan cara yang relevan.

Penelitian mengenai perilaku konsumen Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial, pengalaman merek, dan personalisasi berkaitan dengan perilaku konsumen di sektor makanan dan minuman. Sementara itu, penelitian tentang social commerce di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas belanja Gen Z.

Lalu, jenis UMKM seperti apa yang berpotensi menarik perhatian Gen Z?

1. Minuman Kekinian dengan Konsep Personal

Bisnis minuman masih menjadi salah satu bidang yang relatif mudah dikembangkan karena produknya dapat dikreasikan berdasarkan tren dan preferensi konsumen.

Namun, menjual minuman saja belum tentu cukup.

Pelaku UMKM bisa menawarkan konsep personalisasi. Misalnya, pembeli dapat memilih tingkat kemanisan, jenis susu, tambahan topping, ukuran minuman, hingga nama yang dicetak pada kemasan.

Personalisasi membuat produk terasa lebih dekat dengan pelanggan.

Minuman juga memiliki keunggulan dari sisi visual. Warna, topping, bentuk gelas, desain stiker, dan kemasan dapat menjadi bagian dari identitas merek.

Untuk Gen Z, tampilan produk dapat menjadi bagian dari pengalaman ketika membeli.

Bukan berarti produk harus dibuat berlebihan. Justru konsep sederhana dengan identitas visual yang konsisten bisa lebih mudah dikenali.

Misalnya, sebuah UMKM menjual minuman teh buah. Daripada hanya menjual “teh stroberi”, bisnis tersebut dapat menciptakan nama menu yang mudah diingat, menawarkan pilihan tingkat manis, dan menggunakan kemasan dengan desain khas.

Produk tetap sederhana, tetapi pengalaman membeli menjadi lebih menarik.

2. Makanan Ringan dengan Rasa yang Bisa Dipilih

Camilan merupakan jenis produk yang fleksibel untuk dikembangkan.

Keripik, makaroni, basreng, cookies, popcorn, kacang, atau camilan lokal bisa dikembangkan menjadi produk dengan berbagai pilihan rasa.

Gen Z dapat menjadi target pasar yang menarik karena produk makanan ringan mudah dikonsumsi saat belajar, bekerja, berkumpul bersama teman, atau menikmati hiburan.

Kuncinya adalah memberikan pilihan.

Misalnya, satu produk memiliki varian pedas, gurih, manis, barbeque, keju, rumput laut, atau rasa lokal. Konsumen juga dapat membeli paket campur sehingga bisa mencoba beberapa rasa sekaligus.

Model seperti ini membuat produk lebih mudah dikembangkan menjadi konten.

Pemilik UMKM dapat membuat video “pilih level pedas”, melakukan polling rasa baru, atau meminta pelanggan menentukan varian berikutnya.

Interaksi tersebut membuat media sosial tidak hanya menjadi tempat beriklan, tetapi juga menjadi ruang untuk melibatkan konsumen.

3. Produk Makanan Tradisional dengan Kemasan Modern

Gen Z bukan berarti hanya tertarik pada makanan modern.

Penelitian terhadap 1.292 responden Gen Z Indonesia menemukan bahwa nilai keberlanjutan dan konten influencer memiliki hubungan dengan minat mengonsumsi makanan tradisional, meskipun pengaruhnya dalam penelitian tersebut relatif kecil. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa TikTok menjadi platform media sosial yang paling banyak disebut oleh responden.

Temuan tersebut membuka peluang bagi UMKM makanan tradisional.

Kue tradisional, jajanan pasar, keripik daerah, sambal, minuman tradisional, hingga makanan khas daerah dapat dikemas dengan pendekatan yang lebih modern.

Misalnya, jajanan pasar tidak harus dijual dalam kemasan plastik biasa. Pelaku usaha dapat membuat kotak berisi beberapa jenis jajanan dengan desain yang menarik.

Produk tersebut bisa diposisikan sebagai snack box untuk bekerja, belajar, rapat kecil, hadiah, atau acara komunitas.

Cerita mengenai asal-usul makanan juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari konten.

Dengan begitu, produk tradisional tidak kehilangan identitasnya, tetapi memiliki cara komunikasi yang lebih dekat dengan konsumen muda.

4. Hampers Mini untuk Teman dan Pasangan

Budaya memberikan hadiah tidak selalu membutuhkan acara besar.

Gen Z dapat membeli hadiah kecil untuk ulang tahun teman, kelulusan, teman kerja, pasangan, atau sekadar memberikan kejutan.

Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan UMKM melalui produk hampers berukuran kecil.

Isinya tidak harus mahal.

Misalnya, satu paket terdiri dari cookies, kartu ucapan, minuman, stiker, gantungan kunci, atau produk kecil lainnya.

Yang membuatnya menarik adalah personalisasi.

Pelanggan dapat memilih warna kemasan, menambahkan nama penerima, memilih kartu ucapan, dan menentukan isi paket.

Harga dapat dibuat dalam beberapa pilihan sehingga konsumen bisa menyesuaikan dengan anggaran.

Model bisnis seperti ini juga memberikan peluang repeat order, terutama ketika pelanggan merasa proses pemesanan mudah dan produk bisa dikirim langsung kepada penerima.

5. Produk Custom yang Membuat Pembeli Merasa Spesial

Salah satu karakteristik menarik dari produk untuk Gen Z adalah kesempatan untuk menunjukkan identitas pribadi.

Karena itu, produk custom memiliki ruang yang cukup besar.

Contohnya adalah tote bag dengan desain pilihan sendiri, mug dengan nama, phone case personal, notebook custom, gantungan kunci, stiker, atau aksesori dengan ilustrasi pelanggan.

UMKM tidak perlu langsung memiliki mesin produksi mahal.

Model pre-order dapat digunakan untuk mengurangi risiko stok.

Pelanggan melakukan pemesanan terlebih dahulu, kemudian produk dibuat sesuai permintaan.

Selain mengurangi potensi barang tidak terjual, sistem ini juga memungkinkan UMKM menawarkan lebih banyak variasi desain.

Konten media sosial pun bisa dibuat dari proses produksi.

Video sebelum dan sesudah produk dibuat, proses mencetak nama pelanggan, atau pengemasan pesanan dapat menjadi konten yang menunjukkan sisi personal dari sebuah bisnis.

6. Fashion Lokal dengan Desain yang Tidak Pasaran

Fashion merupakan bidang lain yang dapat dikembangkan UMKM untuk target Gen Z.

Namun, persaingannya juga cukup tinggi.

Karena itu, pelaku usaha perlu memiliki identitas yang jelas.

Daripada menjual kaus dengan desain yang terlalu umum, UMKM dapat membangun tema tertentu. Misalnya, desain yang terinspirasi dari kota, budaya lokal, humor sehari-hari, ilustrasi makanan Indonesia, musik independen, atau kehidupan anak muda.

Produk juga bisa dibuat dalam jumlah terbatas.

Konsep limited drop dapat membuat produk terasa lebih eksklusif tanpa harus memproduksi dalam jumlah besar.

Namun, kelangkaan sebaiknya tetap disampaikan secara jujur. Jangan menciptakan kesan stok terbatas jika sebenarnya produk tersedia tanpa batas.

Kepercayaan konsumen tetap penting dalam membangun bisnis jangka panjang.

7. Jasa Foto dan Video Produk untuk UMKM

Tidak semua peluang bisnis Gen Z harus berupa produk fisik.

Jasa kreatif juga dapat menjadi UMKM yang potensial.

Banyak pemilik usaha membutuhkan foto produk, video pendek, desain konten, editing video, pembuatan katalog, atau pengelolaan media sosial.

Gen Z yang memiliki kemampuan fotografi, desain, editing, atau pembuatan konten dapat menjadikannya sebagai jasa.

Modal awalnya relatif dapat disesuaikan dengan kemampuan.

Bahkan, seseorang dapat memulai dari smartphone dan peralatan sederhana.

Target pasarnya juga jelas: UMKM makanan, toko pakaian, kedai kopi, penjual produk kecantikan, toko online, hingga bisnis rumahan.

Yang penting adalah membangun portofolio.

Satu proyek pertama bisa digunakan sebagai contoh pekerjaan berikutnya.

8. Jasa Hampers dan Packaging Kreatif

Ada peluang lain yang sering tidak terlihat, yaitu bisnis di balik bisnis.

Banyak UMKM memiliki produk yang bagus tetapi belum mempunyai kemasan menarik.

Di sinilah jasa packaging dapat mengambil peran.

Pelaku usaha bisa menawarkan pembuatan box, stiker, kartu ucapan, label produk, pita, paper bag, hingga paket hampers.

Layanan dapat dibuat modular.

Misalnya, pelanggan hanya membutuhkan desain stiker. Pelanggan lain membutuhkan satu paket lengkap mulai dari desain hingga pengemasan.

Model ini memungkinkan UMKM menyesuaikan layanan dengan kebutuhan dan anggaran klien.

9. Makanan Sehat yang Tetap Punya Tampilan Menarik

Kesadaran terhadap kesehatan juga dapat menjadi peluang bisnis.

Penelitian mengenai preferensi kuliner Gen Z menyebutkan bahwa kelompok ini memiliki perhatian terhadap pilihan makanan yang lebih sehat, termasuk produk organik dan rendah gula.

Hal tersebut dapat diterjemahkan menjadi peluang bagi UMKM.

Contohnya adalah granola, overnight oats, salad buah, jus tanpa tambahan gula berlebihan, snack berbahan lokal, cookies dengan pilihan bahan tertentu, atau makanan siap santap dengan informasi komposisi yang jelas.

Namun, pelaku usaha sebaiknya berhati-hati dalam menggunakan klaim kesehatan.

Jangan mengatakan sebuah produk dapat menyembuhkan penyakit atau memberikan manfaat medis tertentu tanpa dasar yang sesuai.

Lebih baik komunikasikan informasi yang memang dapat dibuktikan, seperti bahan yang digunakan, ukuran porsi, kandungan tertentu berdasarkan analisis yang tersedia, atau proses produksinya.

Transparansi justru dapat membangun kepercayaan.

10. UMKM yang Menggabungkan Produk dan Pengalaman

Gen Z tidak hanya membeli barang.

Dalam banyak situasi, pengalaman membeli juga menjadi bagian dari keputusan konsumen.

Contohnya adalah kedai kecil yang menawarkan workshop merangkai bunga, membuat lilin, menghias cookies, melukis tote bag, atau membuat aksesori.

Peserta tidak hanya mendapatkan produk akhir, tetapi juga pengalaman.

Model seperti ini memiliki keunggulan tambahan karena aktivitasnya mudah dibuat menjadi konten.

Peserta dapat mengunggah hasil karyanya. Teman mereka melihat konten tersebut. Kemudian muncul calon pelanggan baru.

Promosi akhirnya terjadi melalui pengalaman konsumen.

Mengapa Media Sosial Penting untuk UMKM yang Menargetkan Gen Z?

Gen Z sangat dekat dengan ekosistem digital.

Penelitian mengenai social commerce menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat melihat konten, tetapi juga dapat menjadi bagian dari perjalanan belanja.

Artinya, UMKM tidak harus selalu mengarahkan calon pelanggan dari media sosial menuju toko online yang berbeda.

Konten yang menarik dapat menjadi pintu masuk menuju pembelian.

Video pendek, siaran langsung, ulasan pelanggan, demonstrasi produk, konten di balik layar, hingga konten buatan pelanggan dapat digunakan untuk memperkenalkan bisnis.

Namun, bukan berarti setiap konten harus dibuat mengikuti semua tren.

Identitas bisnis tetap perlu dipertahankan.

Jika bisnis menjual makanan tradisional, misalnya, kontennya dapat menggunakan gaya komunikasi modern tanpa menghilangkan cerita mengenai asal-usul produknya.

Jika menjual produk custom, tampilkan proses personalisasinya.

Jika menjual pakaian, tampilkan cara memadukan produk dengan gaya berbeda.

Konten yang memperlihatkan produk secara nyata biasanya lebih informatif daripada sekadar memasang poster promosi berulang-ulang.

Gen Z Juga Memperhatikan Harga

Produk yang ditujukan untuk Gen Z tidak harus selalu mahal.

Harga tetap menjadi pertimbangan.

Sebuah produk dapat memiliki desain keren dan konsep menarik, tetapi jika harganya terlalu jauh dari kemampuan target pasar, pembelian tetap sulit terjadi.

Karena itu, UMKM dapat membuat beberapa tingkatan produk.

Misalnya:

  • Paket hemat untuk pembeli pertama.
  • Paket reguler untuk pelanggan umum.
  • Paket custom untuk pelanggan yang menginginkan personalisasi.
  • Paket bundling untuk meningkatkan nilai pembelian.

Dengan cara tersebut, pelanggan dapat memilih sesuai kebutuhan.

Jangan Lupakan Kejujuran dalam Promosi

Kecepatan media sosial memang dapat membantu sebuah produk dikenal lebih banyak orang.

Tetapi kecepatan juga membuat kesalahan informasi mudah menyebar.

UMKM sebaiknya tidak membeli ulasan palsu, menggunakan foto produk milik orang lain tanpa izin, membuat klaim berlebihan, atau menyembunyikan informasi penting mengenai produk.

Untuk bisnis yang ingin bertahan lama, kepercayaan lebih berharga daripada satu konten viral.

Hal ini semakin penting ketika bisnis menggunakan influencer atau kreator konten.

Penelitian mengenai Gen Z dan makanan tradisional di Indonesia menunjukkan bahwa audiens muda menghargai kejujuran sumber informasi dan cenderung tertarik pada influencer yang terasa sesuai dengan karakter atau preferensi mereka.

Artinya, kerja sama dengan kreator tidak harus selalu mengejar jumlah pengikut terbesar.

Kesesuaian audiens juga penting.

UMKM Gen Z Tidak Harus Selalu Viral

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Banyak calon pengusaha terlalu fokus mencari bisnis yang bisa viral.

Padahal, viral dan laku secara konsisten adalah dua hal berbeda.

Produk yang viral mungkin mendapatkan banyak perhatian selama beberapa hari. Namun, bisnis membutuhkan pelanggan yang kembali membeli, biaya produksi yang terkendali, pelayanan yang baik, dan arus kas yang sehat.

Karena itu, lebih baik membangun UMKM yang memiliki pelanggan nyata daripada hanya mengejar angka penayangan.

Gunakan media sosial untuk memperkenalkan produk, tetapi tetap perhatikan kualitas barang, harga, pelayanan, kemasan, pengiriman, dan pengalaman pelanggan.

Peluang UMKM untuk Gen Z Ada di Sekitar Kita

Pada akhirnya, UMKM yang disukai Gen Z bukan berarti harus menjual produk yang paling viral.

Peluangnya justru dapat muncul dari kebutuhan sederhana yang dikemas dengan cara lebih relevan.

Minuman dapat dibuat personal. Camilan bisa menawarkan pilihan rasa. Makanan tradisional dapat dikemas lebih modern. Hampers bisa dibuat sesuai karakter penerima. Produk custom dapat menjadi media ekspresi diri. Jasa kreatif bisa membantu UMKM lain tampil lebih profesional.

Semua peluang tersebut memiliki satu kesamaan: memahami pelanggan sebelum membuat produk.

Gen Z hidup dalam lingkungan yang sangat visual, cepat, dan terhubung. Media sosial memungkinkan konsumen menemukan produk baru sekaligus melihat pengalaman pelanggan lain sebelum membeli. Bahkan penelitian tentang bisnis kuliner menunjukkan bahwa media sosial dan pemasaran berkelanjutan dapat berkontribusi terhadap kinerja usaha kecil.

Karena itu, UMKM yang ingin menyasar Gen Z dapat mulai dengan tiga pertanyaan sederhana: apa masalah yang ingin diselesaikan, pengalaman apa yang ingin diberikan, dan alasan apa yang membuat pelanggan ingin membicarakan produk tersebut kepada orang lain.

Dari tiga pertanyaan itu, sebuah ide sederhana bisa berkembang menjadi bisnis yang memiliki identitas.

Jadi, kalau ingin membangun UMKM yang disukai Gen Z, jangan hanya bertanya, “Produk apa yang sedang viral?”

Cobalah bertanya lebih jauh:

“Produk apa yang benar-benar dibutuhkan, punya karakter, mudah ditemukan secara digital, dan membuat pelanggan merasa punya pengalaman berbeda?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa menjadi awal dari bisnis kecil yang bukan sekadar mengikuti tren, tetapi mampu tumbuh bersama konsumennya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *