Suasana politik di Nepal kembali memanas setelah rangkaian demonstrasi besar melanda ibu kota Kathmandu dan beberapa kota besar lainnya. Ribuan warga turun ke jalan, menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat, khususnya terkait perjanjian kerja sama ekonomi dengan pihak asing. Namun, isu mencuat bahwa di balik gelombang protes tersebut terdapat campur tangan Amerika Serikat, yang disebut-sebut menjadi dalang di balik layar.
Gelombang Demonstrasi di Kathmandu
Sejak awal September 2025, jalanan Kathmandu dipenuhi massa aksi yang menuntut pemerintah meninjau ulang kebijakan energi dan investasi asing. Para demonstran membawa poster dan spanduk yang mengecam pemerintah serta menolak proyek-proyek infrastruktur yang dianggap “membebani kedaulatan nasional.”
Beberapa aksi berlangsung damai, namun tidak sedikit pula yang berujung bentrokan dengan aparat keamanan. Laporan media lokal menyebutkan puluhan orang luka-luka, dan belasan lainnya ditangkap akibat bentrokan tersebut.
Demonstrasi ini semakin menyorot perhatian publik setelah muncul tuduhan bahwa Amerika Serikat memberikan dukungan tidak langsung terhadap aksi protes tersebut.
Baca Juga : Singapore Airlines Maskapai Terbaik Dengan Pendapatan Terbesar
Tuduhan Campur Tangan Amerika Serikat
Spekulasi tentang peran Amerika Serikat bermula dari laporan sejumlah analis politik Nepal. Mereka mengaitkan gelombang protes dengan proyek kerja sama Millennium Challenge Corporation (MCC), sebuah program bantuan pembangunan dari AS yang sebelumnya menuai kontroversi di Nepal.
Banyak pihak menilai bahwa MCC merupakan cara halus Amerika untuk memperluas pengaruh geopolitik di Asia Selatan, terutama mengingat posisi strategis Nepal yang berada di antara India dan Tiongkok.
“Demo besar ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik. Ada kepentingan pihak luar yang mencoba memanfaatkan keresahan masyarakat. Dan semua tanda mengarah pada Washington,” ujar seorang pengamat politik lokal kepada media internasional.
Meski belum ada bukti konkret yang dipublikasikan, sejumlah bocoran dokumen diplomatik yang beredar di media sosial memperkuat dugaan tersebut.
Reaksi Pemerintah Nepal
Pemerintah Nepal dengan cepat merespons isu keterlibatan Amerika Serikat. Dalam konferensi pers resmi, juru bicara pemerintah menyatakan bahwa mereka sedang menyelidiki apakah ada pendanaan asing yang mengalir ke kelompok-kelompok penggerak demonstrasi.
“Kami tidak akan mentolerir campur tangan pihak luar dalam urusan domestik Nepal. Kedaulatan dan stabilitas nasional adalah prioritas utama,” tegas Perdana Menteri Nepal.
Namun, pemerintah juga berhati-hati agar tidak memperburuk hubungan diplomatik dengan Washington, mengingat Amerika Serikat masih menjadi salah satu mitra ekonomi terbesar Nepal.
Respons Amerika Serikat
Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kathmandu membantah keras tuduhan tersebut. Dalam pernyataan resminya, AS menegaskan bahwa mereka mendukung demokrasi, kebebasan berekspresi, dan hak masyarakat Nepal untuk menyuarakan pendapat.
“Tuduhan bahwa Amerika Serikat mendalangi demonstrasi adalah tidak berdasar. Kami menghormati kedaulatan Nepal dan berkomitmen mendukung pembangunan negara ini melalui kerja sama sah dan transparan,” tulis pernyataan itu.
Meski begitu, pernyataan resmi ini tidak cukup meredam spekulasi publik yang sudah terlanjur berkembang luas.
Kepentingan Geopolitik di Asia Selatan
Nepal, meski merupakan negara kecil, memiliki posisi strategis di kawasan Asia Selatan. Terletak di antara dua kekuatan besar dunia, India dan Tiongkok, Nepal sering menjadi “ajang tarik-menarik” pengaruh.
Amerika Serikat, yang semakin aktif membangun aliansi di kawasan Indo-Pasifik untuk menghadapi kebangkitan Tiongkok, dinilai memiliki alasan kuat untuk memperluas pengaruh di Nepal.
“Kontrol atas jalur energi, perdagangan, dan infrastruktur di Nepal bisa menjadi kunci penting dalam persaingan global antara AS dan Tiongkok,” ujar seorang analis hubungan internasional di New Delhi.
Suara Masyarakat Nepal
Di sisi lain, banyak warga Nepal mengaku kecewa dengan pemerintah mereka sendiri. Menurut sejumlah demonstran, alasan utama turun ke jalan adalah meningkatnya biaya hidup, korupsi, dan minimnya transparansi terkait proyek infrastruktur asing.
“Kami tidak peduli siapa yang ada di balik semua ini. Yang jelas, pemerintah gagal mendengarkan rakyat. Harga kebutuhan pokok naik, pekerjaan sulit, dan kami merasa masa depan negara ini dijual murah,” kata seorang mahasiswa yang ikut aksi di Kathmandu.
Namun, isu campur tangan Amerika Serikat tetap menjadi bahan pembicaraan hangat, terutama di media sosial. Tagar-tagar seperti #HandsOffNepal dan #NoForeignInterference sempat menjadi tren di Twitter lokal.
Risiko Hubungan Bilateral
Jika tuduhan ini terus bergulir tanpa penyelesaian jelas, hubungan diplomatik Nepal–AS bisa memasuki masa sulit. Nepal berisiko kehilangan dukungan finansial maupun bantuan internasional jika terlalu keras menuduh Washington.
Sebaliknya, jika pemerintah terlalu lembek, mereka bisa kehilangan kepercayaan publik yang sudah terlanjur curiga dengan keterlibatan asing.
Situasi ini membuat pemerintah Nepal berada dalam posisi dilematis.
Reaksi Internasional
Sejumlah negara tetangga ikut menanggapi perkembangan di Nepal. India, yang memiliki kedekatan historis dengan Nepal, meminta agar semua pihak menahan diri dan mengutamakan dialog. Sementara Tiongkok menegaskan bahwa mereka menentang segala bentuk intervensi asing di Nepal.
“Stabilitas Nepal penting untuk stabilitas kawasan. Campur tangan pihak luar hanya akan memperburuk keadaan,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Apa Selanjutnya?
Hingga kini, belum ada bukti kuat yang dapat membuktikan klaim bahwa Amerika Serikat mendalangi demo besar di Nepal. Namun, spekulasi ini telah cukup mengguncang politik domestik Nepal, memicu perdebatan, dan mempertegas bagaimana negara kecil seperti Nepal kerap menjadi arena perebutan pengaruh global.
Ke depan, tantangan terbesar bagi Nepal adalah menjaga kedaulatan nasional sekaligus membangun hubungan diplomatik yang seimbang dengan kekuatan besar dunia. Bagi Amerika Serikat, tuduhan ini bisa mencoreng reputasi mereka di kawasan jika tidak segera ditangani dengan transparan.
Kesimpulan
Isu “Amerika Serikat diduga menjadi dalang demo Nepal” mencerminkan kompleksitas geopolitik di Asia Selatan. Meski bukti konkret masih minim, opini publik sudah terlanjur terbentuk. Nepal kini berada di persimpangan jalan antara menjaga stabilitas domestik dan menghadapi tekanan eksternal.
Apakah isu ini akan mereda atau justru berkembang menjadi krisis diplomatik baru, semuanya bergantung pada bagaimana pemerintah Nepal dan Washington mengelola narasi serta hubungan bilateral dalam beberapa bulan ke depan.
